10 Tokoh yang Cocok Memimpin Indonesia Saat Krisis 2026
Dedi Mulyadi memimpin daftar tokoh yang dinilai paling cocok menakhodai Indonesia saat krisis (35%), diikuti Prabowo Subianto (14%) dan Anies Baswedan (9%).
10 Tokoh yang Cocok Memimpin Indonesia Saat Krisis
(Tahun 2026)
Unduh
Krisis menempatkan pemimpin pada situasi yang membutuhkan ketegasan dalam mengambil keputusan sekaligus kemampuan memahami persoalan masyarakat. Karakter dan citra seorang tokoh turut membentuk pandangan publik mengenai sosok yang dianggap mampu memimpin dalam kondisi penuh tekanan.
Gambaran tersebut terekam dalam survei Tempo Data Science bertajuk Survei Publik terhadap Kinerja Pemerintah dan Dinamika Politik Nasional yang digelar pada 31 Juli-11 Agustus 2026. Melalui wawancara tatap muka terhadap 1.260 responden di 38 provinsi, survei ini memiliki sampling error sebesar 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%.
Dedi Mulyadi menjadi tokoh yang paling banyak dinilai cocok memimpin Indonesia saat krisis, yakni sebesar 35%. Publik paling banyak mengaitkan Dedi dengan sosok yang dekat dengan rakyat (78%), disusul tegas (31%), serta memiliki kemampuan bekerja yang bagus (20%).
Interaksinya dengan warga yang kerap ditampilkan melalui media sosial hingga menyentuh persoalan sehari-hari membuat sosoknya lebih terlihat dekat dengan masyarakat dibandingkan tokoh lain.
Prabowo Subianto mengekor di posisi kedua, meski perolehannya masih kurang dari separuh capaian Dedi Mulyadi yakni 14%. Citra yang paling melekat padanya yakni tegas (60%), berpengalaman (22%), dan dekat dengan rakyat (15%).
Pengalaman kepemimpinan dalam menghadapi tekanan ekonomi menjadi salah satu rekam jejak yang relevan dalam melihat sosok Prabowo saat krisis. Respons terhadap tekanan ekonomi turut membentuk rekam jejak kepemimpinannya.
Baca Juga: Cara Presiden Indonesia Merespons Krisis dari Era ke Era
Anies Baswedan menyusul dengan 9%. Citra yang melekat padanya paling kuat pada kedekatan dengan rakyat (40%), disusul kemampuan bekerja yang bagus (27%) dan ketegasan (21%).
Kedekatan dengan rakyat tersebut juga terlihat dari posisinya sebagai salah satu alternatif pilihan responden. Dukungannya mencapai 11% ketika pilihan pertama publik tidak ikut kontestasi dan 13% ketika Dedi Mulyadi tidak maju.
Joko Widodo berada di urutan berikutnya sebanyak 7%. Pengalamannya memimpin Indonesia selama dua periode menjadi rekam jejak yang membentuk persepsi publik, termasuk kebijakan pembangunan infrastruktur dan pemberian bantuan sosial yang masif selama pemerintahannya.
Sherly Tjoanda melengkapi jajaran lima besar dengan perolehan 3%, menjadi satu-satunya tokoh pemimpin wanita yang dianggap mampu memimpin Indonesia di tengah krisis.
Memasuki paruh kedua daftar, Ganjar Pranowo juga memperoleh 3%, sedangkan Gibran Rakabuming Raka, Agus Harimurti Yudhoyono, dan Mahfud MD masing-masing meraih 2%. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melengkapi daftar dengan 1%.
Rangkaian nama tersebut menunjukkan beragamnya sosok yang dipandang mampu menghadapi situasi krisis. Rekam jejak, karakter, hingga pengalaman memimpin menjadi bagian dari citra yang melekat pada para tokoh tersebut di mata publik.
Baca Juga: Siapa Tokoh dengan Elektabilitas Presiden Tertinggi 2026?
Sumber:
https://www.youtube.com/live/SyUvBkZ4Qno?si=jDLPPajoPT5LeZZH
Key Insights
- Dedi Mulyadi unggul signifikan dengan 35%, menunjukkan bahwa kedekatan dengan rakyat (78%) adalah atribut paling dicari publik saat memilih pemimpin krisis.
- Prabowo Subianto, meskipun di posisi kedua (14%), menonjol dengan citra ketegasan (60%), yang menunjukkan sebagian publik memprioritaskan kekuatan dalam menghadapi krisis.
- Anies Baswedan (9%) dan Joko Widodo (7%) memiliki dukungan yang lebih rendah dalam konteks krisis, meskipun keduanya dikenal dekat dengan rakyat atau berpengalaman memimpin.
- Kehadiran Sherly Tjoanda (3%) di lima besar menunjukkan adanya apresiasi publik terhadap pemimpin perempuan dalam menghadapi situasi krisis.
Ditulis oleh Rosita Fatimah Azahra
Jurnalis data GoodStats Data
Bagikan statistik ini:
Artikel Terkait
Harga BBM Swasta September 2026, Berapa Selisihnya dengan Pertamina?
Dinamika Produksi Padi Nasional Januari-Juli 2026