5 Bidang Studi dengan Proporsi Penganggur S1 Terbesar

Bidang studi Manajemen, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, dan Akuntansi menyumbang 40,2% penganggur lulusan S1 pada 2025.

5 Bidang Studi dengan Proporsi Penganggur S1 Terbesar

(Tahun 2025)

Pendidikan tinggi kerap dipandang sebagai salah satu modal penting untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Gelar sarjana diharapkan dapat membuka akses terhadap pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi sekaligus meningkatkan peluang memperoleh pendapatan lebih tinggi. Namun, bertambahnya lulusan perguruan tinggi juga perlu diimbangi dengan kemampuan pasar kerja dalam menyediakan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tersebut.

Baca Juga: 8 Juta Sarjana Bekerja di Bawah Kualifikasi, Alarm Pasar Kerja Indonesia

Laporan Labor Market Brief Juli 2026 dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan bahwa pengangguran berpendidikan minimal S1 masih banyak berasal dari sejumlah bidang studi tertentu. Analisis tersebut menggunakan data Sakernas Agustus 2025 untuk melihat kondisi pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia.

Manajemen menjadi bidang studi dengan proporsi terbesar, yakni 10,3% dari penganggur berpendidikan minimal S1. Posisi berikutnya ditempati Hukum dengan 9,0% dan Ekonomi sebesar 8,7%. Sementara itu, lulusan Pendidikan menyumbang 7,1% dan Akuntansi sebesar 5,1%.

Jika digabungkan, kelima bidang studi tersebut mencakup sekitar 40% dari seluruh penganggur berpendidikan minimal S1. Besarnya proporsi ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa lulusan dari bidang-bidang tersebut memiliki risiko menganggur lebih tinggi. LPEM FEB UI mencatat bahwa bidang studi dengan jumlah penganggur besar juga dapat berkaitan dengan besarnya basis lulusan serta luasnya cakupan program studi di perguruan tinggi.

Manajemen, misalnya, memiliki cakupan keilmuan yang luas dan berkaitan dengan berbagai sektor pekerjaan, mulai dari administrasi, pemasaran, sumber daya manusia, hingga pengelolaan usaha. Program studi tersebut juga tersedia di banyak perguruan tinggi sehingga jumlah lulusannya relatif besar.

Di luar lima bidang studi tersebut, Informatika menyumbang 4,6% dari penganggur berpendidikan minimal S1. Data ini menunjukkan bahwa persoalan ketenagakerjaan lulusan perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan pilihan bidang studi, tetapi juga kesesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja.

Penyelarasan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja menjadi langkah penting agar lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang relevan. Dengan dukungan keterampilan yang sesuai dan peluang kerja yang memadai, pendidikan tinggi tetap dapat menjadi bekal untuk meningkatkan daya saing serta membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat.

Baca Juga: SMK Jadi Kelompok dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi Mei 2026

Sumber:

https://lpem.org/ketika-akses-pendidikan-tinggi-bertambah-apakah-pasar-kerja-siap-labor-market-brief-juli-2026/

Annisa Rendanianti
Ditulis oleh Annisa Rendanianti

Jurnalis data GoodStats Data

Lupa Sandi?

atau masuk dengan akun media sosial

Esc