Anggaran BMKG Turun 5% dalam RAPBN 2027
Rancangan belanja untuk BMKG menjadi Rp2.522,8 miliar pada tahun 2027, dari yang sebelumnya mencapai Rp2.675,4 miliar dalam APBN 2026.
Perkembangan Anggaran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
(2026-2027)
Unduh
Berdasarkan Buku II Nota Keuangan beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran (TA) 2027, pemerintah mencanangkan adanya penyusutan pagu pendanaan untuk lembaga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dalam postur anggaran tahun depan, lembaga pemantau cuaca dan iklim ini diproyeksikan hanya mendapatkan kucuran pagu sebesar Rp2.522,8 miliar. Alokasi anggaran BMKG tersebut mencatatkan penurunan sebesar 5,7% jika dibandingkan dengan APBN 2026 yang nominalnya Rp2.675,4 miliar.
Menurut programnya, program meteorologi, klimatologi, dan geofisika mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan pos lainnya. Alokasi pengeluaran untuk program utama BMKG tersebut ditargetkan menyentuh angka Rp1.280,1 miliar dalam RAPBN 2027, atau mendominasi hingga 50,7% dari total keseluruhan rancangan pagu.
Baca Juga: Anggaran MBG Lebih Besar dari Kebencanaan di RAPBN 2026, Pantaskah?
Jika dibandingkan dengan kucuran APBN 2026 yang besarnya mencapai Rp1.369,9 miliar, nominal alokasi untuk program utama BMKG ini mengalami penyusutan sebanyak 6,6%.
Tren penyusutan juga terjadi pada program dukungan manajemen. Anggaran program manajerial ini dipotong sebanyak 4,8% dari APBN 2026 yang sebelumnya mencapai Rp1.305,5 miliar.
Pada rancangan tahun depan, program ini hanya akan dijatuhi kucuran dana sebanyak Rp1.242,7 miliar, atau mengambil proporsi sebesar 49,3% dari total postur anggaran BMKG dalam RAPBN 2027.
Proporsi yang nyaris seimbang antara kucuran untuk program dukungan manajemen dengan program meteorologi, klimatologi, dan geofisika dalam RAPBN 2027 menunjukkan bahwa BMKG tengah berupaya menyeimbangkan kinerjanya di tengah pemangkasan dana.
Namun di sisi lain, program meteorologi, klimatologi, dan geofisika yang justru mendapat porsi penyusutan yang lebih besar ketimbang program dukungan manajemen menandakan bahwa prioritas alokasi anggaran BMKG pada tahun depan tampaknya sedikit lebih berfokus pada pembenahan operasional internal institusi dibandingkan penguatan layanan serta fungsi teknis di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika secara langsung di lapangan.
Rancangan dana BMKG dalam RAPBN 2027 tersebut akan diarahkan untuk sejumlah target prioritas, di antaranya pelaksanaan Sekolah Lapang Gempa Bumi dengan membidik sasaran 2.370 peserta, penguatan Sekolah Lapang Iklim, serta rutinitas pemeliharaan 1.914 unit peralatan di tingkat daerah dan 314 unit di pusat.
Selain itu, optimalisasi anggaran juga akan disalurkan guna memperkuat infrastruktur radar, pengamatan kelautan, jaringan satelit, hingga pengembangan sistem peringatan dini banjir pesisir.
“Langkah penguatan sistem pengamatan, pemeliharaan aloptama (alat operasional utama), dan edukasi masyarakat ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan nasional terhadap risiko bencana, sekaligus mendukung keselamatan transportasi, ketahanan pangan, hingga aktivitas sosial-ekonomi masyarakat di seluruh Indonesia,” ucap Staf Hubungan Masyarakat (Humas) BMKG, Muhammad Yusril Ihza dalam siaran persnya, Selasa (1/9/2026).
Baca Juga: Indonesia Jadi Negara Paling Peduli Krisis Iklim
Sumber:
https://drive.google.com/file/d/1mUbNLalcb6aOhgPhOHW-QSiczOs8yb-Z/view?usp=sharing
Key Insights
- Pemotongan anggaran BMKG sebesar 5,7% pada 2027 menandakan pemerintah kemungkinan sedang mengetatkan ikat pinggang atau mengalihkan prioritas ke sektor lain.
- Proporsi anggaran yang nyaris seimbang antara meteorologi, klimatologi, dan geofisika (50,7%) dan dukungan manajemen (49,3%) menunjukkan BMKG berupaya menjaga keseimbangan internal di tengah keterbatasan dana.
- Penurunan anggaran program meteorologi, klimatologi, dan geofisika sebesar 6,6% yang lebih besar dari dukungan manajemen (4,8%) mengindikasikan BMKG memprioritaskan pembenahan internal dibandingkan teknis langsung di lapangan.
- Fokus anggaran pada pemeliharaan peralatan dan edukasi masyarakat menunjukkan strategi jangka panjang BMKG untuk mitigasi bencana dan cuaca, meski dengan dana yang lebih kecil.
Ditulis oleh Shahibah A
Jurnalis data GoodStats Data
Bagikan statistik ini:
Artikel Terkait
Tren Harga Daging Ayam Ras dan Kampung Semester I 2026
Tren Notifikasi Kosmetik Indonesia, Terus Naik 5 Tahun Terakhir
Persebaran WNA di Jakarta pada 2025, Jaksel Teratas
DIY Jadi Provinsi dengan Cagar Budaya Terbanyak 2026