Capai 25%, Kedekatan dengan Rakyat Jadi Pertimbangan Utama Saat Memilih Presiden
Survei Tempo 2026: kedekatan dengan rakyat menjadi pertimbangan utama memilih presiden sebesar 25%, menegaskan pentingnya citra kedekatan calon dengan pemilih.
Pertimbangan Utama dalam Memilih Presiden
(Tahun 2026)
Unduh
Setiap individu memiliki alasan dibalik pilihan politiknya. Pertimbangan tersebut menggambarkan bagaimana ia memaknai sosok pemimpin yang dikehendaki.
Tempo Data Science mengukur hal ini melalui Survei Publik terhadap Kinerja Pemerintah dan Dinamika Politik Nasional. Salah satu aspek yang diukur ialah pertimbangan publik dalam memilih presiden.
Survei digelar pada 31 Juli-11 Agustus 2026 melalui wawancara tatap muka terhadap 1.260 responden di 38 provinsi, dengan sampling error sebesar 2,9% dan tingkat kepercayaan 95%.
Baca Juga: Antusias, 85% Publik RI Akan Memilih di Pemilu 2029
Kedekatan dengan rakyat menjadi pertimbangan utama ketika menentukan presiden, yakni sebesar 25%. Persepsi mengenai kedekatan dapat membentuk kesan bahwa seorang calon memahami persoalan yang dihadapi publik secara langsung, terutama ketika interaksi dengan warga menjadi bagian yang terlihat dari aktivitas politiknya.
Program dan visi-misi berada di posisi berikutnya sebanyak 19%. Faktor ini berkaitan dengan arah yang hendak dibawa seorang calon setelah terpilih, mulai dari gagasan pembangunan hingga kebijakan yang ditawarkan untuk menjawab persoalan publik.
Masih dengan jumlah yang sama, 19% responden mempertimbangkan kepribadian atau ketegasan. Pertimbangan ini berkaitan dengan karakter calon dalam menghadapi berbagai situasi, termasuk bagaimana ia mengambil sikap, menyampaikan keputusan, dan merespons persoalan yang muncul.
Kemampuan menyelesaikan masalah ekonomi menempati posisi keempat dengan 17%. Isu ekonomi memiliki kaitan erat dengan kehidupan sehari-hari publik, sehingga kapasitas calon dalam menghadapi persoalan seperti tekanan ekonomi dan kebutuhan publik menjadi salah satu aspek yang diperhitungkan dalam menentukan pilihan.
Adapun sisa pertimbangan lainnya melengkapi preferensi publik dengan porsi yang lebih kecil. Pengalaman memimpin menyusul di angka 10% sebagai landasan rekam jejak yang diuji di ranah birokrasi.
Sementara itu, faktor identitas seperti rekam jejak keluarga atau tokoh pendukung serta latar belakang agama, suku, atau daerah sama-sama mengantongi 3%, disusul kepatuhan mengikuti pilihan keluarga sebesar 1%.
Meski begitu, pilihan politik publik belum sepenuhnya final. Terdapat 48% responden menyatakan masih mungkin atau sangat mungkin mengubah pilihan sebelum pemilu, sementara 49% menyebut tidak akan berubah atau hanya memiliki kemungkinan kecil untuk berganti pilihan.
Terlepas dari kemungkinan perubahan pilihan, keputusan politik mayoritas responden tetap ditentukan oleh diri sendiri sebesar 74%, sedangkan pasangan menjadi pihak yang paling banyak berpengaruh setelahnya dengan 12%. Pihak lain seperti orang tua, anak, tokoh tertentu, maupun anggota keluarga lainnya memiliki pengaruh yang relatif kecil.
Temuan ini menggambarkan cara responden menentukan pilihan politiknya serta sejauh mana keputusan tersebut telah terbentuk. Kondisi tersebut membuat preferensi pemilih menjadi salah satu aspek yang perlu dicermati dalam melihat dinamika politik menuju Pemilu 2029.
Baca Juga: Jika Pemilu Digelar Sekarang, Siapa yang Jadi Pilihan Publik RI?
Sumber:
https://www.youtube.com/live/SyUvBkZ4Qno?si=vvAmzv_4Yt-plDX0
Key Insights
- Kedekatan dengan rakyat menjadi faktor penentu utama (25%) menunjukkan bahwa pemilih Indonesia memprioritaskan pemimpin yang dianggap empatik dan responsif terhadap isu-isu akar rumput.
- Program dan visi-misi (19%) serta kepribadian/ketegasan (19%) memiliki bobot setara, menandakan bahwa pemilih mencari keseimbangan antara substansi kebijakan dan karakter kepemimpinan yang kuat.
- Kemampuan menyelesaikan masalah ekonomi yang hanya 17% menunjukkan bahwa pemilih tidak secara eksklusif fokus pada isu ekonomi, melainkan mempertimbangkan dimensi lain dari seorang pemimpin.
- Tingginya angka pemilih yang masih mungkin berubah pilihan (48%) mengindikasikan bahwa kampanye politik yang dinamis hingga menjelang pemilu dapat sangat memengaruhi hasil akhir.
- Keputusan politik yang mayoritas (74%) ditentukan secara mandiri menunjukkan tingkat kemandirian pemilih yang tinggi, meskipun pasangan juga memiliki pengaruh signifikan (12%).
Ditulis oleh Rosita Fatimah Azahra
Jurnalis data GoodStats Data
Bagikan statistik ini:
Artikel Terkait
Tren Harga Daging Ayam Ras dan Kampung Semester I 2026
Tren Notifikasi Kosmetik Indonesia, Terus Naik 5 Tahun Terakhir
Persebaran WNA di Jakarta pada 2025, Jaksel Teratas
DIY Jadi Provinsi dengan Cagar Budaya Terbanyak 2026