Mata uang merupakan salah satu faktor penting yang mencerminkan kondisi perekonomian suatu negara. Masing-masing mata uang memiliki nilai tukar yang berbeda, bergantung pada kekuatan ekonomi, kebijakan pemerintah, serta tingkat kepercayaan pasar global. Pergerakan nilai tukar ini kerap dijadikan indikator untuk menilai stabilitas ekonomi suatu negara.
Memasuki awal tahun 2026, sejumlah mata uang tercatat memiliki nilai tukar paling rendah di dunia akibat tekanan ekonomi, inflasi tinggi, hingga ketidakpastian politik.
Iran dengan Iranian Rial (IRR) berada di urutan pertama dengan nilai tukar 1.072.500 IRR per USD. Sanksi global dan inflasi yang mencapai 43% membuat Iranian Rial terpuruk. Di posisi kedua ada mata uang Lebanon yaitu Lebanese Pound (LBP) dengan nilai tukar 89.594,64 LBP per USD.
Baca Juga: 10 Negara yang Pernah Redenominasi Mata Uang dan Dampaknya bagi Ekonomi
Vietnamese Dong (VND), mata uang Vietnam berada di peringkat ketiga. Nilai tukarnya sebesar 26.270 VND per USD. Meski masuk dalam jajaran mata uang terlemah, perekonomian Vietnam justru menunjukkan performa yang optimal. Lemahnya nilai tukar VND sengaja dipertahankan sebagai kebijakan moneter untuk menjaga harga ekspor tetap kompetitif dan meningkatkan daya saing Vietnam di pasar internasional.
Urutan keempat ditempati Leone Sierra Leone (SLE) dari Sierra Leone dengan nilai tukar 23.165,40 SLE per USD. Mata uang ini melemah akibat kemiskinan, konflik berkepanjangan, korupsi, serta dampak wabah Ebola yang memperburuk kondisi ekonomi negara tersebut.
Di posisi kelima ada Laos dengan mata uangnya Laotian Kip (LAK), yang nilai tukar per USD sama dengan 21.635,84 LAK. Rendahnya nilai ini ini diakibatkan oleh utang luar negeri yang terus meningkat.
Indonesia menduduki urutan keenam mata uang terlemah pada 2026. Nilai tukarnya mencapai Rp16.966,55 per USD pada 21 Januari 2025. Keberadaan rupiah dalam daftar ini lebih disebabkan oleh faktor denominasi nilai mata uang, bukan karena lemahnya kinerja ekonomi semata.
Dj urutan ketujuh ada Uzbekistan Som (UZS) dari Uzbekistan dengan nilai tukar 12.075 UZS per USD, diikuti Guinean Franc (GNF) dari Guinea senilai 8.761,97 GNF, Paraguayan Guarani (PYG) dari Paraguai sebesar 6.681,67 PYG, dan ditutup oleh Shilling Uganda (UGX) dari Uganda bernilai 3.458,16 UGX.
Daftar ini menegaskan bahwa rendahnya nilai tukar mata uang tidak selalu menandakan ekonomi yang lemah. Faktor kebijakan, struktur denominasi, hingga kondisi global turut berperan, sehingga nilai kurs perlu dibaca dengan konteks yang tepat.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Turun per Oktober 2025