Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap keamanan digital terus meningkat, seiring maraknya penipuan online, paparan konten berbahaya, hingga aktivitas ilegal yang beredar luas di internet. Hal ini tercermin dalam Survei Penetrasi Internet dan Segmentasi Pasar ISP 2025 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Survei berlangsung pada 10 April–16 Juli 2025 melibatkan 8.700 responden berusia minimal 13 tahun dari 38 provinsi, menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error ±1,1%.
Hasil survei menunjukkan bahwa 24,37% responden menilai fitur anti penipuan online sebagai fitur keamanan paling penting. Angka ini menggambarkan kekhawatiran pengguna terhadap berbagai modus penipuan digital seperti phishing atau pesan palsu berkedok layanan resmi. Pengguna merasa perlu memiliki perlindungan ekstra saat bertransaksi atau menerima tautan dari sumber yang tidak dikenal.
Posisi kedua ditempati fitur anti judi online yang digunakan oleh 22,07% responden. Pilihan ini dipengaruhi oleh maraknya iklan dan tautan judi yang sering muncul dan membuat pengguna merasa perlu melindungi diri dari konten yang merugikan.
Fitur anti pornografi dipilih oleh 19,64% pengguna, terutama mereka yang ingin membatasi akses terhadap konten dewasa. Fitur ini menjadi andalan banyak keluarga dan lembaga pendidikan untuk memastikan anak dan remaja tetap aman saat mengakses internet.
Sementara itu, fitur internet ramah anak digunakan oleh 18,24% responden. Fitur ini tidak hanya menyaring konten, tetapi juga membantu mengatur durasi penggunaan dan akses situs tertentu sehingga lebih sesuai bagi pengguna muda.
Menutup lima besar adalah fitur anti spam dengan 7,22%. Filter ini berfungsi menghalau pesan otomatis dan tautan mencurigakan yang berpotensi membawa malware.
Selain lima fitur keamanan yang paling banyak digunakan, terdapat juga beberapa pilihan lain yang angkanya lebih kecil. Fitur ad-block digunakan oleh 3,96% responden, sementara fitur Anti VPN/Proxy dipakai oleh 3,94% responden. Di luar itu, 0,46% responden menyatakan tidak menggunakan fitur keamanan apa pun dan 0,1% memilih fitur lainnya.
Secara keseluruhan, temuan APJII 2025 menegaskan bahwa masyarakat Indonesia semakin mengutamakan keamanan saat beraktivitas di dunia maya. Peningkatan kesadaran tersebut berjalan seiring dengan semakin kompleksnya ancaman digital mulai dari penipuan online, peretasan akun, hingga pencurian identitas yang menuntut pengguna untuk lebih selektif dalam memilih platform, fitur, dan layanan yang menawarkan jaminan keamanan.
Baca Juga: 22% Pengguna Internet Indonesia Alami Penipuan Online
Sumber:
https://survei.apjii.or.id/survei/group/11