Miliarder Dunia Ramai-Ramai Pindah Negara, Ini Alasannya

Sebesar 36% responden menyebut keinginan untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik bagi diri dan keluarga sebagai motivasi utama pindah negara.

Alasan Miliarder Dunia Pindah Negara

(Tahun 2025)
Ukuran Fon:

Mobilitas miliarder global kian tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Laporan UBS yang berjudul Billionaire Ambitions Report 2025 menunjukkan bahwa perpindahan negara bukan lagi fenomena pinggiran, melainkan bagian dari strategi hidup dan pengelolaan aset jangka panjang kelompok superkaya dunia.

Sebanyak 36% klien miliarder UBS yang disurvei mengaku telah pindah negara setidaknya satu kali. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga responden tidak lagi terikat pada satu yurisdiksi sepanjang hidupnya. Selain itu, 9% lainnya menyatakan sedang mempertimbangkan relokasi dalam waktu dekat. Tren ini semakin kuat di kalangan miliarder yang lebih muda. Sebanyak 44% responden berusia hingga 54 tahun tercatat telah pindah minimal sekali, dan 15% di kelompok usia ini tengah mempertimbangkan langkah serupa.

Baca Juga: Hal-Hal yang Jadi Kekhawatiran Miliarder Global 2025

Alasan di balik keputusan tersebut tidak semata-mata soal pajak. Survei mencatat, 36% responden menyebut keinginan untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik bagi diri dan keluarga sebagai motivasi utama. Persentase yang sama, 36%, juga menyoroti kekhawatiran terhadap kondisi geopolitik global yang semakin dinamis. Sementara itu, 35% responden menyatakan relokasi dilakukan untuk mengatur urusan perpajakan secara lebih efisien.

Di luar tiga faktor dominan tersebut, terdapat pertimbangan lain yang turut memengaruhi keputusan pindah negara. Sekitar 15% ingin memperoleh tingkat privasi yang lebih tinggi, dan 15% lainnya ingin lebih dekat dengan keluarga besar. Akses terhadap layanan kesehatan yang lebih baik menjadi alasan bagi 7% responden, sedangkan 3% menyebut faktor lain di luar opsi yang tersedia. Menariknya, 22% responden menyatakan tidak ada alasan apa pun yang akan membuat mereka memutuskan untuk pindah.

Secara regional, UBS mencatat adanya perbedaan motif. Di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika, isu perpajakan dan geopolitik menjadi pendorong utama relokasi. Sementara di Asia-Pasifik, kualitas hidup dan geopolitik menempati posisi teratas. Data ini menegaskan bahwa relokasi bagi miliarder bukan sekadar pilihan gaya hidup kosmopolitan, melainkan langkah strategis dalam merespons ketidakpastian global yang kian kompleks.

Baca Juga: Tantangan Global yang Dihadapi Anak Muda Menurut Miliarder 2025

Sumber:

www.ubs.com

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook