Berdasarkan survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI), mayoritas publik Indonesia masih memiliki akar nasionalisme yang kuat. Tercatat, sebagian publik menyatakan siap perang demi mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) apabila sewaktu-waktu terjadi pecah konflik antara Indonesia dengan negara lain.
Persentase kelompok responden yang menyatakan bersedia untuk turut berperang mencapai 48,5%. Angka ini kemudian disusul oleh 26,4% publik lainnya yang dengan tegas mengaku sangat bersedia maju ke medan pertempuran.
Jika diakumulasikan, total publik yang siap pasang badan untuk membela negara menyentuh angka 74,9% atau mencapai 7 dari 10 publik, membuktikan bahwa mayoritas warga negara Indonesia masih memegang teguh sikap patriotisme dan kesadaran bela negara demi menjaga keutuhan NKRI.
Baca Juga: Pengadaan Alutsista Jadi Target Fungsi Pertahanan RAPBN 2026
Di sisi lain, terdapat total 21,8% publik yang menyatakan tidak bersedia untuk turun berperang. Rincian angka ini terdiri atas responden yang menjawab tidak bersedia dengan proporsi 17,4%, diikuti oleh sekelompok responden yang bersikap sangat tidak bersedia di angka 4,4%.
Kendati demikian, masih terdapat responden yang tidak mengambil suara dalam survei ini. Sebanyak 3,2% publik terdata merespons tidak tahu atau tidak menjawab, mengindikasikan bahwa masih ada sebagian kecil kelompok masyarakat yang belum menaruh perhatian lebih terhadap isu krusial pertahanan negara ini.
Tingginya antusiasme publik untuk ikut terjun membela negara ini sejalan dengan amanat Pasal 30 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, bahwa upaya bela negara merupakan hak sekaligus kewajiban konstitusional setiap warga negara.
Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa negara harus selalu siap mempertahankan diri dari berbagai spektrum ancaman, baik yang bersifat militer maupun nonmiliter, dari serangan fisik hingga nonfisik.
Ia menilai bahwa ketangguhan bela negara mutlak membutuhkan fondasi kedisiplinan yang kuat untuk membangun barisan pertahanan yang solid.
“Tantangan yang dialami bapak dan ibu sekalian adalah tantangan digitalisasi dan tantangan nasionalisme kebangsaan,” ungkapnya dalam kegiatan Retret Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Pusat Kompetensi Bela Negara, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/1/2026).
Kepada wartawan, ia berharap untuk terus mengikuti arus perkembangan informasi guna mendeteksi berbagai potensi ancaman sejak dini. Ketajaman analisis media diharapkan mampu membantu negara menyiapkan langkah-langkah antisipasi yang presisi.
Menurutnya, tugas menjaga kedaulatan bukanlah tanggung jawab aparat keamanan semata, melainkan kewajiban kolektif seluruh elemen bangsa agar fondasi NKRI tidak mudah digoyahkan oleh gempuran zaman.
Pengumpulan data dalam survei LSI ini dilakukan melalui wawancara secara tatap muka terhadap 2.020 responden berusia 17 tahun atau lebih yang dipilih secara random (multistage random sampling) pada 4-12 Maret 2026, dengan margin of error sebesar +/-2,2% pada tingkat kepercayaan 95%.
Baca Juga: 3 Kapal Perang Rusia Tiba-tiba Bersandar di Jakarta, Ada Apa?
Sumber:
https://www.lsi.or.id/post/rilis-lsi-12-april-2026