8 Negara Target Utama Malware Infostealer, Indonesia Masuk Posisi Teratas

Fenomena perdagangan data ilegal di pasar gelap siber memosisikan delapan negara di kawasan Asia Pasifik sebagai sasaran utama perangkat perusak pencuri data.

8 Negara Target Utama Malware Infostealer

(Periode 2025/2026)

Data pribadi dan kredensial digital pengguna internet kini menjadi komoditas yang diperjualbelikan secara terorganisir di pasar gelap dark web. Berdasarkan laporan penegakan hukum INTERPOL melalui Operation Secure, fenomena ini didorong oleh maraknya serangan dari lima keluarga infostealer terbesar dunia di wilayah Asia dan Pasifik Selatan.

Kebocoran data awal tersebut menjadi sarana utama bagi pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksi pembobolan rekening perbankan, pencurian identitas, hingga serangan siber lanjutan.

Dalam peta sebaran ancaman regional, Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Tailan terdata menghadapi frekuensi target tertinggi dengan total empat jenis malware sekaligus.

Pada kelompok ini, wilayah Indonesia dan Tailan menjadi target operasi dari kombinasi malware LummaC2, Loki, Negasteal, dan ZBot. Sementara itu, wilayah Vietnam dan Filipina diincar oleh varian RedLine, LummaC2, Loki, dan Negasteal.

Baca Juga: Teknologi: Benteng Optimisme Indonesia di Tengah Ketidakpastian 2025

Satu tingkat di bawahnya, Malaysia, Singapura, dan Australia mencatatkan frekuensi target sebanyak tiga jenis malware. Untuk wilayah Malaysia, ancaman datang dari kelompok LummaC2, Loki, dan Negasteal. Berbeda dengan Malaysia, Singapura menghadapi kombinasi LummaC2, Negasteal, dan ZBot, sedangkan benua Australia tercatat menjadi target operasi dari Loki, Negasteal, dan ZBot.

Melengkapi daftar ini, wilayah India tercatat menjadi target operasi dari dua jenis malware, yaitu Negasteal dan ZBot. Kedua malware tersebut kerap ditemukan dalam kampanye siber yang menyasar sektor perbankan digital serta infrastruktur energi. Berdasarkan data operasi penegakan hukum siber, aktivitas serangan di negara ini banyak memanfaatkan celah keamanan pada sistem kredensial institusi.

Kelima jenis malware ini beroperasi secara independen dengan metode pencurian data yang berbeda-beda. Varian LummaC2 menyasar dompet kripto dan kredensial browser dengan menyamar sebagai aplikasi populer seperti Notion atau Capcut. Di sisi lain, Loki menyerang perangkat Android serta Windows menggunakan samaran file berformat .iso.

Untuk pencurian data perbankan, ZBot berfokus spesifik pada pembobolan akun finansial online, sedangkan Negasteal bekerja sebagai trojan akses jarak jauh yang menyusup lewat email phishing. Terakhir, varian RedLine memanen informasi login pengguna secara massal dengan memanfaatkan iklan manipulatif serta perangkat lunak bajakan.

Luasnya jaringan sebaran malware di delapan negara tersebut mempertegas pentingnya peningkatan pertahanan siber secara mandiri. Sebagai langkah mitigasi awal, pengguna internet disarankan untuk mengaktifkan autentikasi dua faktor (MFA) dan menghindari unduhan aplikasi dari situs ilegal.

Selain itu, tindakan pencegahan dapat dioptimalkan dengan menonaktifkan fitur simpan sandi otomatis pada peramban web lalu beralih ke aplikasi password manager resmi yang terenkripsi.

Baca Juga: Daftar Serangan Siber yang Dialami Lembaga Pendidikan Indonesia

Sumber:

https://www.interpol.int/Crimes/Cybercrime/Projects/Asia-and-South-Pacific-Joint-Operations-Against-Cybercrime-ASPJOC

https://www.interpol.int/News-and-Events/News/2026/New-INTERPOL-report-highlights-escalating-cyber-threats-across-Asia-and-South-Pacific

Demas Reyhan Adritama
Ditulis oleh Demas Reyhan Adritama

IT & Sports Enthusiast

Lupa Sandi?

atau masuk dengan akun media sosial

Esc