Bukan Pencurian Biasa, Jenis Kejahatan Ini Dominasi Laporan Kriminal di Jawa Timur pada 2025

Kejahatan terhadap keamanan publik mendominasi lanskap kriminalitas Jawa Timur pada tahun 2025 dengan porsi mencapai 41%.

Persentase Tindak Pidana Menurut Jenis Kejahatan di Jawa Timur

(Tahun 2025)

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menerbitkan Statistik Politik dan Keamanan tahun 2025, yang sukses memperlihatkan sebuah fakta mengejutkan terkait lanskap kriminalitas di wilayah tersebut. Dokumen resmi ini secara tegas menyoroti bahwa dominasi kasus pencurian konvensional kini telah bergeser jauh, membuka jalan bagi pelanggaran keamanan publik untuk mengambil alih posisi tertinggi.

Rekapitulasi data pelaporan dari kepolisian secara mengejutkan mendudukkan pelanggaran terhadap keamanan publik dan negara di posisi puncak, dengan porsi sangat dominan mencapai 41%. Menyusul tepat di urutan kedua, tindak kejahatan jalanan maupun domestik yang menyebabkan luka atau penganiayaan fisik menyumbang porsi sebesar 16% dari keseluruhan perkara.

Perkara kejahatan konvensional seperti pencurian terhadap hak milik tanpa kekerasan ternyata hanya menempati urutan ketiga, yang secara rinci tercatat mewakili 15% dari total tindak pidana. Sementara itu, kasus penyalahgunaan narkotika serta peredaran obat-obatan terlarang terpantau masih menjadi ancaman laten bagi masyarakat setempat, dengan kontribusi pelaporan sebesar 14%.

Baca Juga: 2 Tahun Terakhir, 75% Publik RI Pernah Berurusan dengan Polisi

Tindak kejahatan kerah putih yang melibatkan manipulasi materi seperti penipuan, penggelapan aset perusahaan, hingga tindak pidana korupsi di tingkat birokrasi mencatatkan persentase pelaporan sebesar 9%. Sisa laporan perkara sebesar 4,7% merupakan gabungan dari berbagai pelanggaran berat, mulai dari kejahatan kesusilaan, perampokan bersenjata, pembunuhan berencana, hingga perusakan lingkungan hidup.

Meningkatnya intensitas laporan kriminalitas konvensional pada tahun ini rupanya memiliki kaitan yang sangat erat, terutama dengan tingginya tekanan finansial akibat kondisi perekonomian. Biaya tuntutan hidup yang semakin melonjak tajam ini sering kali dimanfaatkan sebagai celah, atau sekadar menjadi alasan utama bagi sejumlah individu untuk nekat mengambil jalan pintas.

Pesatnya penetrasi teknologi informasi turut membawa sisi gelap berupa ruang kejahatan baru yang dengan cepat menginspirasi munculnya perilaku kriminal daring hingga ke berbagai pelosok daerah. Tantangan penyelesaian perkara ini menjadi semakin kompleks, mengingat tingginya heterogenitas kultur serta padatnya populasi penduduk di Jawa Timur memang sangat rentan memicu konflik sosial bawaan.

Tingginya kuantitas laporan perkara tindak pidana pada praktiknya tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah tersangka, karena sebuah rentetan kejahatan bisa saja didalangi oleh aktor yang sama. Merespons tantangan keamanan tersebut, upaya pemerataan kualitas maupun kuantitas personel kepolisian di setiap daerah mutlak diperlukan, agar penempatan para penegak hukum benar-benar sesuai dengan peta zona kerawanan wilayah.

Baca Juga: 10 Wilayah Paling Rawan Kejahatan di Jawa Barat 2025

Sumber:

https://jatim.bps.go.id/id/publication/2026/08/28/94ae2542a4bb6a1062adb208/statistik-politik-dan-keamanan-provinsi-jawa-timur-2025.html

Demas Reyhan Adritama
Ditulis oleh Demas Reyhan Adritama

IT & Sports Enthusiast

Lupa Sandi?

atau masuk dengan akun media sosial

Esc