Ini Alasan Balita Tak Diberi Imunisasi pada 2026

Kekhawatiran terhadap efek samping vaksin menjadi alasan utama balita tak diberi imunisasi, dengan persentase mencapai 73,13%.

Alasan Balita Tak Diberi Imunisasi

(Tahun 2026)

Imunisasi menjadi salah satu upaya penting untuk melindungi anak dari berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Pemberian imunisasi sejak usia dini membantu membentuk kekebalan tubuh sehingga risiko terkena penyakit tertentu dapat ditekan. Meski demikian, masih terdapat balita yang belum pernah mendapatkan imunisasi.

Baca Juga: Makin Tinggi Pendidikan Ibu, Makin Besar Capaian Imunisasi Dasar Anak

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat sejumlah alasan yang membuat balita tidak pernah diberi imunisasi. Data tersebut mencakup penduduk berumur 0-59 bulan yang tidak pernah mendapatkan imunisasi berdasarkan alasan yang disampaikan.

Kekhawatiran terhadap efek samping vaksin menjadi alasan yang paling banyak ditemukan. Secara nasional, sebanyak 73,13% balita yang tidak pernah diberi imunisasi memiliki alasan tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa efek samping masih menjadi salah satu pertimbangan utama keluarga dalam memberikan imunisasi kepada anak.

Selain efek samping, 46,68% balita tidak pernah diberi imunisasi karena orang tua atau keluarga khawatir dengan kandungan dalam vaksin. Sementara itu, 43,48% lainnya disebabkan adanya keraguan terhadap efektivitas imunisasi. Kedua alasan tersebut menunjukkan bahwa pertimbangan mengenai keamanan dan manfaat vaksin masih menjadi faktor yang berkaitan dengan keputusan pemberian imunisasi.

Adapun 28,98% balita tercatat memiliki alasan lainnya. Persentase pada masing-masing alasan tidak harus berjumlah 100% karena satu balita dapat memiliki lebih dari satu alasan tidak diberi imunisasi.

Jika dilihat menurut provinsi, terdapat perbedaan yang cukup besar pada alasan tidak diberikannya imunisasi. Kekhawatiran terhadap efek samping vaksin tercatat tinggi di sejumlah daerah, seperti Bali yang mencapai 87,51%, Aceh sebesar 84,84%, dan Kalimantan Selatan dengan 83,17%.

Untuk alasan kekhawatiran terhadap kandungan vaksin, Bali mencatat persentase tertinggi sebesar 96,44%. Di sisi lain, Nusa Tenggara Timur berada pada angka 11,98%. Perbedaan juga terlihat pada alasan lainnya. Papua Selatan mencatat persentase 92,59%, sedangkan Bali berada pada 13,67%.

Data tersebut menunjukkan bahwa alasan balita tidak pernah mendapatkan imunisasi cukup beragam di setiap daerah. Karena itu, informasi mengenai keamanan, kandungan, serta efektivitas imunisasi menjadi hal yang penting untuk dipahami keluarga agar keputusan pemberian imunisasi dapat dilakukan berdasarkan informasi yang tepat.

Penguatan edukasi mengenai imunisasi dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan perlindungan kesehatan anak di Indonesia.

Baca Juga: 836 Ribu Anak Indonesia Belum Mendapat Imunisasi, Apa Alasannya?

Sumber:

https://www.bps.go.id/id/publication/2026/10/05/7e415878a8af3678e51f3e0a/statistik-kesejahteraan-rakyat-2026.html

Annisa Rendanianti
Ditulis oleh Annisa Rendanianti

Jurnalis data GoodStats Data

Lupa Sandi?

atau masuk dengan akun media sosial

Esc