Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus mengguncang pasar kerja global, tak terkecuali di Indonesia. Penggunaannya yang semakin luas membuat sejumlah profesi terancam bakal tergantikan AI.
Survei Populix mengungkapkan bahwa pekerjaan layanan konsumen menjadi pekerjaan yang paling terancam. Sebanyak 35% responden merasa bahwa pekerjaan tersebut bakal segera tergantikan AI. Kehadiran berbagai layanan chatbot dalam melayani konsumen dan segala keluhannya kini sudah semakin sering ditemukan. Chatbot bisa standby 24 jam tanpa lelah, menjawab dan melayani konsumen dengan maksimal, membuat peran manusia semakin tersingkirkan. Meski begitu, penggunaan manusia juga masih dibutuhkan untuk memberikan pengalaman personal terhadap setiap pelanggan.
Lebih lanjut, di urutan kedua ada desainer grafis yang dipilih 27% responden. Banyaknya tools AI yang dapat menghasilkan gambar dan ilustrasi lewat beberapa prompt sederhana membuat banyak responden merasa pekerjaan ini bakal segera tergantikan AI.
Sementara itu, 24% responden memilih pekerja IT, lebih tepatnya analis data sebagai pekerjaan yang terancam AI, diikuti penulis konten dengan 22%. Pekerja administratif juga turut masuk dalam daftar dengan 18%.
Menariknya, 16% responden juga merasa guru atau tutor bakal segera tergantikan AI. Peran dan tanggung jawabnya dalam mengajar dan mendidik kini dirasa bisa digantikan AI yang mampu mengumpulkan informasi dan data secara luas dalam waktu singkat, memberikan wawasan dan ilmu pada para penggunanya layaknya seorang guru. Sisanya sebanyak 11% responden menjawab tidak yakin.
Di tengah gempuran ancaman AI, sebanyak 35% responden justru termotivasi untuk terus belajar lebih dalam mengenai AI. Alih-alih khawatir AI sepenuhnya menggantikan pekerjaan manusia, responden merasa ingin benar-benar menguasai AI agar bisa memaksimalkan penggunaannya untuk meningkatkan produktivitas.
Di sisi lain, 30% responden merasa khawatir akan adanya AI, namun juga penasaran akan penggunaannya. Lebih lanjut, 25% responden merasa optimis dengan adanya AI.
Namun ada pula 6% responden yang merasa marah dan tidak adil dengan keberadaan AI yang berpotensi mencuri pekerjaan manusia.
Adapun survei ini dilakukan secara online dengan melibatkan 1.100 responden di seluruh Indonesia pada 10-12 Juni 2025.
Baca Juga: Benarkah Mahasiswa RI Ketagihan AI?
Sumber:
https://info.populix.co/data-hub/reports/ai-in-everyday-life