Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase rumah tangga dengan kepala rumah tangga perempuan di Indonesia cenderung stabil dalam satu dekade terakhir, yaitu berada di kisaran 60-62%.
Mulanya pada tahun 2016, persentasenya tercatat sebesar 60,19%. Angka ini sempat mengalami penurunan tipis pada dua tahun berikutnya, yaitu menjadi 60,17% pada tahun 2017 dan 60,08% pada tahun 2018. Namun, tren tersebut kembali berbalik naik pada tahun 2019 dengan capaian 61,21%.
Memasuki tahun 2020, persentase kepala rumah tangga perempuan kembali sedikit menurun menjadi 60,57%, sebelum mencapai titik tertinggi dalam satu dekade ini, yaitu pada tahun 2021 dengan angka 62,42%.
Baca Juga: Potret Kepala Rumah Tangga Perempuan di Indonesia
Kenaikan ini tidak terlepas dari dampak pandemi Covid-19 yang mendorong perubahan dinamika ekonomi keluarga serta membuka ruang lebih besar bagi perempuan untuk mengambil peran strategis, termasuk sebagai kepala rumah tangga.
Pada tahun 2022, persentase kepala rumah tangga perempuan di Indonesia turun menjadi 60,47%. Periode berikutnya juga mencatatkan perubahan yang kecil, yaitu dengan angka 60,31%.
Sementara itu, persentase pada tahun 2024 kembali tumbuh menjadi 60,5%, sebelum akhirnya kembali berada di angka 60,31% pada tahun 2025.
Di sisi lain, persentase kepala rumah tangga laki-laki masih mendominasi secara konsisten, dengan angka yang berada di kisaran 90-92% sepanjang periode yang sama. Pada tahun 2016, persentasenya tercatat sebesar 91,82% dan relatif stabil hingga tahun 2025 di angka 90,98%.
Hal ini menunjukkan bahwa peran laki-laki sebagai kepala rumah tangga masih menjadi norma utama dalam masyarakat Indonesia. Meskipun laki-laki masih mendominasi sebagai kepala rumah tangga, peran perempuan sebagai pilar ekonomi keluarga juga tak kalah nyata.
Pemerintah juga mulai mendorong penguatan peran perempuan dalam sektor ekonomi. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy mengatakan Indonesia ingin membangun para pengusaha perempuan yang kuat dan berdaya saing.
“Kita ingin membangun generasi perempuan baru sebagai tiang negara, yaitu para pengusaha perempuan yang kuat dan berdaya saing, berpayung pada semangat pembangunan berkelanjutan,” ucapnya dalam agenda penandatanganan perjanjian kerja sama antara Kementerian PPN/Bappenas, Universitas Padjadjaran, dan Nuraa Women’s Institute membentuk Women Small and Medium Enterprises (SMEs) Unpad-Nuraa Center di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, penguatan ekonomi perempuan perlu difokuskan pada peningkatan kapasitas dan manajemen usaha, perluasan akses pembiayaan, peningkatan akses pasar dan integrasi dalam rantai nilai produksi, pemanfaatan teknologi dan digitalisasi usaha, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha.
“Tidak ada negara yang kuat dan besar tanpa pengusaha yang kuat. Karena itu kita harus terus mendorong lahirnya entrepreneur baru, termasuk dari kalangan perempuan,” tekadnya.
Baca Juga: 6 dari 100 Pemuda Indonesia adalah Kepala Rumah Tangga
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTYwNiMx/persentase-rumah-tangga-menurut-provinsi--jenis-kelamin-kepala-rumah-tangga--krt--yang-bekerja--dan-daerah-tempat-tinggal--2009-2024.html