Pidato Presiden Prabowo Subianto sepanjang Juli 2026 menjadi salah satu isu yang banyak menyita perhatian publik. Sepanjang bulan tersebut, Prabowo menyampaikan pidato dalam sejumlah agenda kenegaraan, antara lain pada peringatan HUT ke-80 Bhayangkara, peresmian Bendungan Meninting di Lombok, Hari Koperasi Nasional ke-79, dan Hari Lahir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Baca juga: Sentimen Negatif terhadap Kondisi Politik di Era Prabowo Melonjak ke 42%
Berbagai pidato yang disampaikan dalam sejumlah agenda kenegaraan memunculkan beragam respons masyarakat, mulai dari dukungan terhadap substansi kebijakan hingga kritik terhadap gaya komunikasi yang digunakan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi politik seorang kepala negara tidak hanya dinilai dari isi pesan yang disampaikan, tetapi juga dari pilihan diksi, konteks penyampaian, dan dampaknya terhadap persepsi publik.
Berdasarkan pemantauan Drone Emprit pada periode 1-28 Juli 2026, isu pidato Presiden Prabowo menghasilkan 3.241 mentions di media online. Sementara itu, percakapan di media sosial mencapai 18.519 sample mentions yang berasal dari berbagai platform, seperti X, Facebook, Instagram, TikTok, dan kanal digital lainnya.
Analisis sentimen Drone Emprit menunjukkan bahwa pemberitaan di media online didominasi sentimen negatif. Sebanyak 71,3% pemberitaan bernada negatif, sedangkan 25,1% bersifat netral dan hanya 3,5% yang bernada positif.
Dominasi sentimen negatif dipicu oleh sejumlah isu yang menjadi sorotan, seperti penggunaan istilah istilah “londo ireng” dalam pidato Hari Lahir PKB yang dikaitkan dengan wartawan, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat.
Sentimen negatif juga dipicu oleh pidato pada puncak peringatan Hari Koperasi Nasional. Presiden mempersilakan masyarakat yang merasa masa depan Indonesia suram untuk mencari negara lain.
“Yang ragu-ragu silakan duduk di rumah aja. Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang,” ujarnya mengutip Kompas (12/7/2026).
Pernyataan tersebut banyak diberitakan karena dinilai sebagian pihak bernada konfrontatif serta kurang memberi ruang bagi kritik terhadap pemerintah. Di sisi lain, sentimen positif tetap muncul melalui pemberitaan yang mengapresiasi komitmen Presiden dalam pemberantasan korupsi, keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), perhatian terhadap kesejahteraan guru honorer, serta gaya komunikasi yang dinilai lugas dan dekat dengan masyarakat.
Temuan Drone Emprit menunjukkan bahwa komunikasi publik menjadi aspek penting dalam penyampaian kebijakan pemerintah. Dengan penyampaian pesan yang lebih efektif, pemerintah berpeluang meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap kebijakan sekaligus meminimalkan polemik yang dapat menggeser fokus dari substansi program.
Baca Juga: Prabowo Teken PP No 30 Tahun 2026, Lepas Status WNI Kini Berbayar Rp5 Juta
Sumber:
https://x.com/droneempritoffc/status/2082737173682630933?s=48