Indonesia Jadi Negara dengan Emisi Karbon Kebakaran Terbesar Dunia per September 2026
Indonesia mencatat emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan tertinggi di dunia pada periode 7–13 September 2026.
10 Negara dengan Emisi Karbon Kebakaran Terbesar Dunia
(7-13 September 2026)
Unduh
Indonesia menjadi negara dengan emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan terbesar di dunia pada periode 7–13 September 2026. Berdasarkan data Fire Emissions Watch dari layanan pemantauan iklim Copernicus Uni Eropa, emisi karbon kebakaran Indonesia mencapai 13,1 juta ton karbon.
Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi pertama global, dengan jarak yang cukup jauh dibandingkan negara lain. Brasil berada di posisi kedua dengan emisi sebesar 3,1 juta ton karbon, disusul Angola dan Republik Demokratik Kongo masing-masing sebesar 1,7 juta ton karbon.
Zambia serta Rusia berada di posisi berikutnya dengan angka yang sama, yakni 1,3 juta ton karbon. Sementara itu, Australia menyumbang 1,1 juta ton karbon, menempatkannya di posisi ketujuh dalam daftar negara dengan emisi kebakaran terbesar.
Negara lain yang melengkapi daftar 10 besar adalah Mozambik dengan emisi sebesar 830 ribu ton karbon, disusul Tanzania sebesar 430 ribu ton karbon, serta Argentina sebesar 390 ribu ton karbon.
Selain dari total emisi, Indonesia juga mencatat tingkat intensitas emisi kebakaran tertinggi di antara negara-negara dengan emisi terbesar.
Data Copernicus menunjukkan Indonesia menghasilkan sekitar 1.866 kiloton karbon per hari, dengan intensitas mencapai 992,5 kilogram karbon per kilometer persegi.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Area Karhutla Terluas per Juni 2026, Kalimantan Barat Mendominasi
Lonjakan emisi ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas kebakaran di wilayah hutan dan lahan gambut di Kalimantan serta Sumatra. Kondisi cuaca yang lebih kering akibat fenomena El Niño turut memperbesar risiko kebakaran karena vegetasi lebih mudah terbakar dan api dapat menyebar lebih ekstrem.
Menurut Copernicus Atmosphere Monitoring Service, emisi kebakaran Indonesia pada awal September 2026 bahkan menyumbang lebih dari sepertiga total emisi kebakaran global dalam periode tersebut.
Pengukuran ini menggunakan Fire Emissions Watch (FEW) dari Copernicus Uni Eropa untuk periode 7–13 September 2026. Emisi karbon dihitung berdasarkan observasi satelit terhadap aktivitas kebakaran, termasuk jumlah bahan bakar yang terbakar serta konsentrasi polutan yang dilepaskan ke atmosfer. Peringkat negara disusun berdasarkan total emisi karbon kebakaran dalam satuan juta ton karbon.
Baca Juga: Sebaran Luas Kebakaran di Kawasan Konservasi Indonesia Sepanjang 2000-2024
Sumber:
https://apps.atmosphere.copernicus.eu/fire-emissions-watch/?d1=2026-09-07&d2=2026-09-13&t=2026-09-07T21
Key Insights
- Indonesia mendominasi emisi karbon kebakaran global dengan 13,1 juta ton karbon, lebih dari empat kali lipat emisi Brasil yang berada di posisi kedua (3,1 juta ton karbon).
- Negara tropis mendominasi daftar 10 besar, terutama dari kawasan Asia Tenggara dan Afrika. Selain Indonesia, negara seperti Angola, Republik Demokratik Kongo, Zambia, Mozambik, dan Tanzania menunjukkan tingginya aktivitas kebakaran di wilayah tropis.
- Kebakaran hutan dan lahan menjadi faktor utama pelepasan karbon dalam jumlah besar, terutama pada wilayah dengan ekosistem hutan tropis dan lahan gambut yang menyimpan cadangan karbon tinggi.
- Indonesia juga mencatat intensitas emisi tertinggi dibandingkan negara lain dalam daftar, mencapai sekitar 992,5 kilogram karbon per kilometer persegi. Angka ini menunjukkan bahwa dampak kebakaran di Indonesia tidak hanya besar secara total, tetapi juga tinggi berdasarkan luas wilayah terdampak.
- Fenomena iklim ekstrem memperbesar risiko kebakaran. Kondisi yang lebih kering akibat pengaruh El Niño membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan meningkatkan potensi penyebaran api, terutama di wilayah Kalimantan dan Sumatra.
- Emisi kebakaran berbasis satelit memiliki keterbatasan pemantauan. Kebakaran gambut yang berlangsung dengan intensitas rendah atau terjadi di bawah permukaan tanah dapat berpotensi tidak sepenuhnya terdeteksi, sehingga angka sebenarnya bisa lebih tinggi.
Ditulis oleh Daffa Shiddiq Al-Fajri
Jurnalis data GoodStats Data
Bagikan statistik ini:
Artikel Terkait
Produksi Perikanan Indonesia Tembus 6,78 Juta Ton pada Triwulan II 2026
RAPBN 2027: Otorita IKN Dipagu Rp6,7 Triliun, Fokus Pengembangan Kawasan
Jadi Brand Thai Tea Terfavorit, Ini 10 Alasan Publik RI Pilih Chatime