Sentimen Publik RI terhadap Penanganan Karhutla di Media Online
Sebanyak 69,2% sentimen media online bernada positif terhadap penanganan karhutla, sementara 9,8% pemberitaan menunjukkan sentimen negatif.
Sentimen Pemberitaan Media Online terhadap Penanganan Karhutla
(Agustus 2026)
Unduh
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian publik seiring memburuknya kondisi lingkungan di sejumlah wilayah Kalimantan. Asap yang ditimbulkan tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan, pendidikan, penerbangan, hingga kelangsungan habitat satwa. Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla menjadi salah satu isu yang ramai diperbincangkan di ruang publik.
Baca Juga: 10 Korporasi Konsesi Penyumbang Titik Api Karhutla Terbanyak di Kalimantan 2026
Berdasarkan analisis Drone Emprit, isu penanganan karhutla diberitakan dalam 39.063 artikel media online selama periode 1-25 Agustus 2026 hingga pukul 23.59 WIB. Pada periode yang sama, tercatat 72.158 sample mentions dari berbagai platform media sosial, meliputi Twitter/X, Facebook, Instagram, TikTok, serta media online. Data tersebut menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap perkembangan kebakaran hutan dan lahan serta respons pemerintah dalam menanganinya.
Dari pemberitaan media online, sentimen positif menjadi yang paling dominan dengan proporsi 69,2%. Sementara itu, sentimen netral mencapai 21% dan sentimen negatif sebesar 9,8%. Dominasi sentimen positif menunjukkan bahwa pemberitaan mengenai penanganan karhutla lebih banyak memuat apresiasi terhadap upaya pemerintah dan petugas di lapangan.
Sejumlah pemberitaan positif menyoroti keterlibatan Presiden Prabowo Subianto dalam penanganan karhutla di Kalimantan. Langkah turun langsung untuk meninjau lokasi kebakaran serta instruksi percepatan pemadaman menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian. Upaya penanganan secara multisektor dengan melibatkan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan juga menjadi bagian dari narasi positif. Penggunaan teknologi untuk mendukung operasi pemadaman turut mendapat sorotan.
Dukungan terhadap percepatan penanganan juga datang dari DPR. Wakil Ketua Komisi IV DPR, Hanan A Rozak mendesak Kementerian Kehutanan segera turun tangan mengatasi karhutla di Kalimantan. Desakan tersebut disampaikan setelah terdeteksi 1.795 titik panas atau hotspot di Kalimantan Tengah.
“Kami meminta agar Kementerian Kehutanan segera turun tangan dan melakukan koordinasi lintas sektor, dan menerjunkan personil guna mencegah kebakaran hutan yang lebih luas,” ujarnya mengutip Kompas (21/8/2026).
Di sisi lain, pemberitaan negatif lebih banyak berkaitan dengan kritik terhadap kebijakan dan respons pemerintah. Salah satunya menyangkut kekecewaan atas kunjungan Menteri Kehutanan yang dinilai baru dilakukan setelah dipanggil DPR. Pemberitaan mengenai karhutla yang terus meluas juga menjadi sumber sentimen negatif, terutama ketika kabut asap dilaporkan menjangkau Malaysia dan Singapura.
Percakapan publik turut menunjukkan bahwa karhutla tidak semata-mata dipandang sebagai bencana alam. Sebagian narasi mempertanyakan faktor manusia dan aktivitas pembukaan lahan yang diduga berkontribusi terhadap kebakaran. Karena itu, perhatian publik tidak hanya tertuju pada pemadaman api, tetapi juga pada penegakan hukum dan pihak yang berada di balik pembakaran hutan dan lahan.
Baca Juga: Katanya/Datanya: Karhutla 2026 Jauh di Bawah Beberapa Tahun Lalu
Sumber:
https://x.com/droneempritoffc/status/2092806559244153143?s=46
Key Insights
- Tingginya volume pemberitaan (39.063 artikel) dan percakapan publik (72.158 mentions) menunjukkan karhutla telah menjadi isu nasional yang mendesak.
- Dominannya sentimen positif (69,2%) mencerminkan apresiasi publik terhadap respons pemerintah, terutama keterlibatan langsung Presiden dalam penanganan karhutla.
- Meskipun sentimen positif dominan, kritik terhadap respons pemerintah dan meluasnya karhutla hingga negara tetangga masih memicu sentimen negatif (9,8%).
- Fokus percakapan publik tidak hanya pada pemadaman, melainkan juga menyoroti faktor manusia dan aktivitas pembukaan lahan sebagai penyebab karhutla.
Ditulis oleh Annisa Rendanianti
Jurnalis data GoodStats Data
Bagikan statistik ini:
Artikel Terkait
7 Jajanan Manis Terpopuler di Indonesia Versi Taste Atlas 2026
Kepuasan Publik terhadap Kinerja Prabowo-Gibran Anjlok Jadi 37%