Tren penggunaan energi ramah lingkungan oleh perusahaan terus menguat dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu indikatornya terlihat dari penjualan Renewable Energy Certificate (REC) yang meningkat signifikan sepanjang 2021–2025.
Skema ini menjadi solusi praktis bagi perusahaan untuk mulai berkontribusi pada energi baru terbarukan (EBT), tanpa harus langsung membangun pembangkit sendiri yang membutuhkan biaya besar.
Dorongan juga datang dari sisi konsumen. Survei Rakuten 2022 yang dikutip dari GoodStats menunjukkan 64% dari 10.886 responden Indonesia menganggap produk ramah lingkungan sebagai faktor penting dalam keputusan pembelian. Hal ini membuat citra sebagai perusahaan hijau semakin relevan dalam strategi bisnis.
Baca Juga: Indeks Ketahanan Energi Indonesia Kembali Naik pada 2024
Secara sederhana, REC bekerja dengan alur listrik dari pembangkit EBT di suatu lokasi dikonversi menjadi sertifikat. Setiap 1 REC setara dengan 1 MWh listrik bersih. Perusahaan yang membeli sertifikat ini dapat mengklaim penggunaan energi terbarukan, meski listrik yang digunakan masih berasal dari jaringan umum. Dana dari pembelian tersebut kemudian digunakan untuk mendukung pengembangan pembangkit EBT.
Sejak diluncurkan pada 2020, penjualan REC terus meningkat. Pada 2021 tercatat 0,308 TWh, naik menjadi 1,761 TWh pada 2022, lalu 3,543 TWh pada 2023. Angka ini kembali tumbuh ke 5,382 TWh pada 2024 dan mencapai 6,42 TWh pada 2025. Total penjualan selama lima tahun mencapai 17,43 TWh.
REC sendiri berasal dari berbagai sumber seperti pembangkit geothermal, tenaga air, surya, hingga biomassa. Harganya juga relatif terjangkau, mengutip dari ZonaEBT, REC dapat dibeli langsung melalui platform tersebut seharga Rp90–95 ribu per satu REC.
Baca Juga: Investasi Hijau RI Tembus Rp1.650 T: Target 50.000 MW pada 2035
Sumber:
https://www.instagram.com/p/DT5PP2lkjXh/?img_index=4