Pengelolaan sampah di kawasan perdesaan masih dihadapkan dengan berbagai tantangan. Berbeda dengan kawasan perumahan di perkotaan yang umumnya telah memiliki layanan pengangkutan sampah dengan sistem iuran, masyarakat di desa masih lebih banyak mengelola sampah secara mandiri. Sampah organik biasanya ditimbun dalam lubang, sedangkan sampah anorganik kerap langsung dibakar di halaman rumah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan sampah di desa belum sepenuhnya dilakukan dengan cara yang lebih berkelanjutan. Selain karena sudah menjadi kebiasaan, terbatasnya fasilitas pengelolaan sampah juga membuat masyarakat memiliki pilihan yang relatif lebih sederhana dalam menangani sampah rumah tangga.
Baca Juga: Naiknya Sampah Makanan di Indonesia dalam 5 Tahun Terakhir
Berdasarkan hasil Pendataan Potensi Desa (Podes) 2024 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 69,84% desa mengelola sampah dengan cara memasukkannya ke dalam lubang atau membakarnya. Sementara itu, hanya 21,52% desa yang membuang sampah ke tempat sampah untuk kemudian diangkut.
Masih terdapat pula sebagian desa yang membuang sampah langsung ke lingkungan. Sebanyak 5,87% membuang sampah ke sungai, saluran irigasi, danau, atau laut. Kemudian 0,43% membuang sampah ke selokan, sedangkan 2,34% menggunakan cara lainnya.
Terbatasnya infrastruktur menjadi salah satu penyebab pengelolaan sampah di desa belum berjalan optimal. Data Podes 2024 menunjukkan sekitar 80% desa di Indonesia belum memiliki Tempat Penampungan Sementara (TPS). Bahkan, lebih dari 90% desa juga belum memiliki fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar desa masih belum memiliki sarana dasar yang dibutuhkan untuk mengelola sampah secara lebih terstruktur dan berkelanjutan. Selama akses terhadap layanan dan fasilitas pengelolaan sampah masih terbatas, praktik membakar atau mengubur sampah kemungkinan akan tetap menjadi cara yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat desa.
Baca Juga: Sampah Indonesia Didominasi Sisa Makanan pada 2025
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2026/06/30/6b676dfa67e3845c2a33a294/cerita-data-statistik-untuk-indonesia--mitigasi-pemanasan-global-melalui-pekerja-pengelola-sampah-sirkular-dan-budaya-memasak-ramah-iklim.html