Berdasarkan survei yang dilakukan Ipsos, sebanyak 86% publik Indonesia meyakini bahwa jumlah kejadian cuaca ekstrem di dalam negeri akan semakin banyak pada tahun 2026 dibandingkan tahun 2025. Angka ini lebih besar dari rata-rata global terhadap total 30 negara yang disurvei, yaitu sebanyak 69% serta menempatkan Indonesia di posisi puncak, di atas Singapura dengan angka 80% dan Irlandia dengan proporsi 77%.
Sebaliknya, sebesar 9% responden Indonesia menilai frekuensi bencana cuaca ekstrem pada tahun 2026 tidak akan lebih banyak dari tahun 2025, lebih kecil dibandingkan rata-rata dunia dengan angka 19%.
Baca Juga: BNPB: 70% Bencana Alam 2025 Didominasi Banjir & Cuaca Ekstrem
Sementara itu, 5% publik sisanya tidak mengambil jawaban, menandakan bahwa masih adanya kelompok yang belum memiliki kepastian pandangan terhadap perkembangan risiko cuaca ekstrem ke depan, seiring dinamika iklim global yang terus berubah.
Uniknya, publik Indonesia menunjukkan konsistensinya dalam isu ini. Sejak tahun 2024, persentase responden yang yakin cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi di indonesia tidak berubah, meski posisi pertama diduduki oleh negara asal Asia Tenggara lainnya, Filipina dengan angka yang berselisih tipis, yaitu 87%.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah bencana cuaca ekstrem di Indonesia cenderung stabil sejak tiga tahun terakhir. Pada tahun 2023, jumlah bencana di Indonesia menyentuh 5,4 ribu kejadian, dengan 1,3 ribu di antaranya berupa cuaca ekstrem atau sama dengan sekitar 24% dari total.
Persentase ini tidak jauh berbeda dalam dua tahun berikutnya. Jumlah kejadian cuaca ekstrem pada tahun 2024 sebanyak 733 peristiwa, atau sekitar 21% dibandingkan total seluruh bencana yang mencapai 3,5 ribu peristiwa.
Demikian pula pada tahun 2025, dari 3,2 ribu bencana yang terjadi, sebanyak 715 peristiwa termasuk dalam cuaca ekstrem atau setara dengan 22%.
Dalam upaya antisipasi bencana cuaca ekstrem, pemerintah melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat kesiapsiagaan melalui layanan informasi cuaca real-time yang dapat diakses masyarakat dan pemangku kepentingan, meliputi InfoBMKG, Digital Weather for Traffic BMKG (transportasi darat), Ina-SIAM (penerbangan), dan InaWIS (pelayaran).
Seluruh informasi tersebut berbasis satelit dengan diperbarui setiap 10 menit dan dapat diakses oleh publik maupun operator transportasi.
Adapun sebagai langkah mitigasi langsung, BMKG bersama BNPB turut menyiagakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah dengan intensitas hujan tinggi berisiko tinggi dengan tetap memperhatikan batasan teknis terutama saat terjadi pengaruh siklon tropis.
Pengumpulan data dalam survei bertajuk Ipsos Predictions Survey 2026 ini dilakukan secara online pada 24 Oktober-7 November 2025 dengan melibatkan 23.642 responden dewasa dari 30 negara. Adapun 1.000 responden berasal dari Indonesia, dengan rentang usia 21-74 tahun.
Baca Juga: Mencegah Banjir Lewat Langit: Berapa Biaya Operasi Modifikasi Cuaca di Jakarta?
Sumber:
https://www.ipsos.com/en/ipsos-predictions-survey-2026