Indonesia kembali dihadapkan pada tingginya frekuensi bencana alam sepanjang awal tahun 2026. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat sebanyak 671 kejadian bencana yang terjadi dalam periode Januari hingga Maret 2026. Angka ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tiga bulan saja, intensitas bencana di Indonesia sudah cukup tinggi.
Dari total tersebut, bencana banjir menjadi jenis yang paling mendominasi dengan jumlah 317 kejadian atau hampir setengah dari seluruh bencana yang terjadi, menegaskan bahwa banjir masih menjadi ancaman utama di berbagai wilayah Indonesia.
Di posisi kedua, bencana cuaca ekstrem tercatat sebanyak 199 kejadian. Fenomena ini mencakup hujan lebat disertai angin kencang yang kerap memicu kerusakan infrastruktur hingga pohon tumbang.
Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berada di urutan berikutnya dengan 78 kejadian, diikuti oleh tanah longsor sebanyak 61 kejadian.
Baca Juga: 7 Provinsi dengan Bencana Banjir dan Tanah Longsor Terbanyak Awal 2026
Jenis bencana lainnya tercatat dalam jumlah yang relatif lebih kecil dan di bawah 10 kejadian bencana, seperti gelombang pasang dan abrasi sebanyak 8 kejadian, kekeringan yang telah terjadi 5 kali, serta gempa bumi yang tercatat terjadi 3 peristiwa dalam periode ini.
Meski jumlahnya tidak sebesar bencana hidrometeorologi, jenis bencana ini tetap perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan dampak besar dalam waktu singkat.
Data ini menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi masih mendominasi lanskap kebencanaan di Indonesia. Kepala Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala (USK), Saumi Syahreza, mengungkapkan bahwa kondisi ini tidak disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan merupakan hasil dari kombinasi berbagai fenomena iklim.
“Pada periode ini, Indonesia dipengaruhi oleh angin Monsun Asia yang membawa massa udara lembap dari kawasan Asia dan perairan sekitarnya, sehingga meningkatkan curah hujan di banyak wilayah,” terangnya kepada GoodStats, Senin (6/4/2026).
Kondisi ini semakin pula diperkuat oleh fenomena La Nina. Meski tergolong lemah, keberadaannya tetap berkontribusi dalam menaikkan suhu permukaan laut dan jumlah uap air di atmosfer sehingga hujan menjadi lebih intens.
Ia juga menyebut adanya aktivitas Osilasi Madden-Julian atau Madden-Julian Oscillation (MJO) yang cukup aktif di kawasan Indonesia turut mempercepat pembentukan awan hujan dalam jangka waktu harian hingga mingguan.
“Ditambah lagi, posisi Zona Konvergensi Intertropis atau disebut Intertropical Convergence Zone (ITCZ) yang berada di sekitar Indonesia menyebabkan pertemuan angin dan pembentukan awan hujan yang lebih kuat,” lanjutnya.
Menurutnya, interaksi antara monsun, La Nina, MJO, dan ITCZ yang bersamaan dengan puncak musim hujan ini membuat pasokan uap air semakin besar dan memicu hujan dengan intensitas tinggi serta durasi yang panjang, sehingga meningkatkan risiko terjadinya hujan ekstrem yang menyebabkan banjir di Tanah Air.
Baca Juga: Distribusi Bantuan bagi Guru Terdampak Bencana di Tiap Jenjang
Sumber:
https://gis.bnpb.go.id/dev/map/