Benarkah Perbedaan Kaya dan Miskin di Indonesia Semakin Melebar?

Sebanyak 73,7% responden percaya bahwa perbedaan kaya dan miskin di Indonesia semakin melebar.

Tingkat Persetujuan bahwa Perbedaan Kaya dan Miskin Semakin Melebar

(Tahun 2026)
Ukuran Fon:

Isu ketimpangan ekonomi kembali menjadi sorotan publik. Di tengah pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang terus berjalan, muncul pertanyaan besar: apakah kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin di Indonesia semakin melebar?

Menurut Lembaga Survei Indonesia (LSI) dalam survei bertajuk Evaluasi dan Komitmen Publik terhadap Pancasila, mayoritas masyarakat tampaknya melihat adanya kecenderungan tersebut. Sebanyak 73,7% responden menilai bahwa perbedaan kaya dan miskin di Indonesia semakin melebar, dengan rincian 17,6% sangat setuju dan 56,1% setuju.

Tingginya angka tersebut mencerminkan pandangan kuat di kalangan masyarakat bahwa hasil pembangunan belum sepenuhnya dirasakan secara merata. Perbedaan akses pendidikan, lapangan kerja, dan peluang ekonomi di berbagai wilayah kerap menjadi penyebab utama munculnya kesenjangan.

Baca Juga: Potret Praktik Pancasila dalam Kehidupan Masyarakat

Di sisi lain, 20,6% responden mengaku tidak setuju bahwa kesenjangan antara kaya dan miskin semakin melebar, sedangkan 2,7% tercatat sangat tidak setuju. Sisanya sebanyak 2,9% responden memilih netral dan tidak menjawab.

Persepsi publik memang tidak selalu sepenuhnya mencerminkan kondisi objektif di lapangan. Namun data ini tetap menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk memperkuat program pemerataan, perlindungan sosial, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Adapun survei ini melibatkan 2.020 responden berusia 17 tahun atau lebih pada 4-12 Maret 2026, dengan margin of error sebesar +/-2,2% pada tingkat kepercayaan 95% (dengan asumsi simple random sampling).

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), gini ratio di Indonesia tercatat turun menjadi 0,363 pada 2025, setelah sebelumnya berada di angka 0,379. Gini ratio terus mengalami penurunan secara konsisten, menegaskan bahwa gap antara si kaya dan si miskin semakin berkurang.

Gini ratio sendiri mengukur ketimpangan pengeluaran. Nilai 0 berarti tidak ada ketimpangan pengeluaran sama sekali, sedangkan nilai 1 berarti ketimpangan pengeluaran yang sangat ekstrem.

Baca Juga: Persepsi Penerapan Pancasila dari Kacamata Gen Z

Sumber:

https://www.lsi.or.id/post/rilis-lsi-12-april-2026

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook