Di tengah meningkatnya kebutuhan dan gaya hidup masyarakat modern, kini generasi muda pun semakin akrab dengan cicilan dan pinjaman, mulai dari paylater, kartu kredit, hingga pinjaman online. Kemudahan akses layanan keuangan digital membuat utang menjadi sesuatu yang mudah dijangkau, bahkan hanya lewat telepon genggam. Tidak melulu untuk memenuhi kebutuhan mendesak, banyak pula anak muda yang menggunakan pinjaman untuk memenuhi konsumsi sehari-hari dan gaya hidup.
Survei dari Muda Bicara ID menyebutkan bahwa sekitar 56,5% responden mengaku memiliki tanggungan utang. Hal ini menunjukkan bahwa kredit atau pinjaman telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kondisi ekonomi anak muda. Adanya tekanan ekonomi, kemudahan akses, hingga rendahnya literasi keuangan menjadi faktor yang mendorong tingginya angka tersebut. Sementara itu, 43,5% sisanya tercatat tidak memiliki utang sama sekali.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Utang Pinjol Tertinggi 2025, Jawa Barat Teratas
Utang ini biasa digunakan untuk kebutuhan mendesak yang tak terduga, seperti biaya berobat. Selain itu, banyak pula anak muda yang berutang untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti untuk membayar tagihan rutin. Sisanya 15,9% anak muda mengaku memiliki utang untuk memenuhi gaya hidup dengan membeli barang tersier dan 9,3% untuk memenuhi kebutuhan rekreasi, seperti tiket konser musik hingga liburan.
Adapun Survei Nasional Muda Bicara ID ini dilakukan pada 1-30 Maret 2026 dengan melibatkan 800 responden berusia 17-40 tahun. Pengumpulan data dilakukan melalui computer-assisted self interviewing, sementara pemilihan sampel menggunakan stratified random sampling untuk memastikan sampel terpilih dapat menjadi representasi proporsional dari setiap subkelompok populasi.
Baca Juga: Kalahkan Gen Z, Mayoritas Pengguna Pinjol 2025 adalah Milenial
Sumber:
https://www.mudabicara.id/kajian/rilis-laporan-survei-nasional-muda-bicara-id-q1/