Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor 17,5 juta ton minyak mentah pada 2025, naik dari tahun sebelumnya yang sebesar 16,8 juta ton. Meski naik, nilai impornya justru turun, dari US$10,3 miliar pada 2024 menjadi US$9,3 miliar pada 2025.
Negara pemasok terbesar adalah Nigeria dengan volume mencapai 4.630,6 ribu ton. Di posisi kedua, Angola menyuplai 3.735,5 ribu ton, diikuti oleh Arab Saudi sebesar 3.188,4 ribu ton. Ketiga negara ini menjadi tulang punggung impor minyak mentah Indonesia, dengan kontribusi yang sangat dominan terhadap total volume.
Baca Juga: Negara dengan Produksi Minyak Terbesar 2026, Ada Indonesia?
Selain itu, Australia juga menjadi pemasok penting dengan 1.268,3 ribu ton, menunjukkan peran kawasan Asia-Pasifik dalam rantai pasok energi Indonesia. Dari Afrika, Gabon turut berkontribusi sebesar 989,6 ribu ton, memperkuat dominasi benua tersebut sebagai sumber utama impor.
Sementara itu, Amerika Serikat menyuplai 684,5 ribu ton, diikuti oleh Malaysia dengan 354,2 ribu ton. Negara lain seperti Azerbaijan (267,5 ribu ton), Aljazair (204,9 ribu ton), dan Guinea Khatulistiwa (174,5 ribu ton) melengkapi daftar pemasok utama.
Jika dilihat lebih jauh, struktur impor ini menunjukkan beberapa pola penting, di mana Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Selain itu, diversifikasi sumber impor cukup luas, mencakup Afrika, Timur Tengah, hingga Amerika dan Asia. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah fluktuasi geopolitik dan harga minyak global.
Namun demikian, ketergantungan terhadap impor juga menjadi tantangan tersendiri. Fluktuasi harga minyak dunia, gangguan pasokan, serta dinamika geopolitik dapat berdampak langsung terhadap ketahanan energi nasional dan beban anggaran.
Baca Juga: Indonesia Ekspor 3,1 Juta Ton Minyak Mentah pada 2025
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2026/02/27/a43f03f45543dc4e9942f44c/statistik-indonesia-2026.html