Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor 6.839,1 ton laptop pada 2025 dengan nilai mencapai US$1,18 miliar. Nilai tersebut sudah termasuk notebook dan subnotebook.
Dari tahun ke tahun, berat impor laptop ke Indonesia cenderung menurun. Pada 2021, Indonesia mengimpor 9.982,1 ton laptop senilai US$1,7 miliar, yang kemudian turun menjadi 8.510,6 ton senilai US$1,5 miliar pada tahun berikutnya.
Memasuki 2023, impor laptop Indonesia kembali turun menjadi 6.835,5 ton senilai US$1,02 miliar, namun mengalami perbaikan pada tahun berikutnya.
Baca Juga: Lenovo Kuasai Pangsa Pasar PC Global Kuartal II 2025
China konsisten jadi pemasok utama laptop ke Indonesia, dengan impor mencapai 6.663,1 ton senilai US$1,16 miliar pada 2025. Dominasi China terlihat sangat signifikan dibandingkan negara lain. Di posisi kedua, Taiwan hanya menyumbang 87,1 ton, dengan selisih yang sangat jauh. Sementara itu, Amerika Serikat mencatat 31,8 ton, diikuti Singapura sebesar 24,9 ton, dan Vietnam sebanyak 16,4 ton. Kategori negara lainnya secara keseluruhan hanya berkontribusi 15,8 ton.
Struktur ini menunjukkan bahwa hampir seluruh impor laptop Indonesia bergantung pada China. Hal ini tidak terlepas dari posisi China sebagai pusat manufaktur elektronik global, termasuk untuk produk komputer dan perangkat teknologi lainnya. Banyak merek internasional yang memproduksi perangkatnya di negara tersebut, sehingga secara otomatis menjadikannya pemasok utama ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Selain faktor produksi, efisiensi biaya dan skala industri juga membuat produk dari China lebih kompetitif. Hal ini memperkuat ketergantungan Indonesia terhadap impor dari negara tersebut, terutama untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat seiring digitalisasi.
Baca Juga: 5 Merek PC Terlaris 2025
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2026/02/27/a43f03f45543dc4e9942f44c/statistik-indonesia-2026.html