Kurangnya Pemahaman Jadi Alasan Perencanaan Keuangan Dianggap Tak Penting

Minimnya pemahaman membuat sebagian masyarakat Indonesia masih menganggap perencanaan keuangan bukan kebutuhan mendesak.

Alasan Publik RI Menganggap Perencanaan Keuangan Tidak Penting

(Tahun 2025)
Ukuran Fon:

Survei terbaru yang dirilis Jakpat mengungkap ironi dalam perilaku finansial masyarakat Indonesia. Meski perencanaan keuangan dinilai penting oleh sebagian besar responden, masih banyak yang menganggapnya tidak relevan dalam kehidupan sehari-hari. Akar masalahnya bukan pada penolakan, melainkan pada kurangnya pemahaman.

Dalam survei yang melibatkan 1.945 pengguna e-wallet di Indonesia, Jakpat mencatat bahwa perencanaan keuangan memiliki skor kepentingan tinggi, yakni 4,74 dari skala 5. Menariknya, Gen Z menjadi kelompok yang paling menaruh perhatian terhadap pentingnya pengelolaan keuangan dibandingkan generasi lainnya seperti Milenial dan Gen X.

Baca Juga: Hampir 80% Publik Indonesia Sudah Melek Perencanaan Keuangan pada 2025

Namun, di sisi lain, terdapat kelompok responden yang menganggap perencanaan keuangan tidak penting. Dari 67 responden dalam kategori ini, alasan paling dominan adalah “tidak memahami perencanaan keuangan” dengan persentase sebesar 39%. Hal ini menunjukkan bahwa literasi keuangan masih menjadi tantangan utama.

Selain itu, 34% responden merasa bahwa perencanaan keuangan hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu, sementara 22% mengaku merasa baik-baik saja tanpa perencanaan finansial. Sebanyak 20% lainnya menilai bahwa perencanaan keuangan bukan kebutuhan mendesak, dan 16% mengaku tidak memiliki waktu untuk melakukannya.

Data ini menegaskan adanya kesenjangan antara kesadaran dan implementasi. Meskipun banyak yang mengakui pentingnya perencanaan keuangan, tidak semua memiliki pengetahuan atau dorongan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Survei ini dilakukan pada 14-21 November 2025 dengan margin of error di bawah 5%. Distribusi kuesioner dilakukan melalui aplikasi Jakpat dan telah disesuaikan dengan proporsi populasi pengguna internet di Indonesia.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa peningkatan literasi keuangan tidak cukup hanya dengan kampanye kesadaran. Diperlukan pendekatan edukatif yang lebih praktis dan mudah dipahami agar masyarakat tidak hanya tahu pentingnya, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata.

Dengan semakin kompleksnya kondisi ekonomi dan gaya hidup digital, pemahaman finansial menjadi kebutuhan dasar yang tidak bisa diabaikan. Tanpa itu, perencanaan keuangan akan terus dianggap sebagai sesuatu yang jauh dan tidak relevan bagi sebagian masyarakat.

Baca Juga: Tujuan Investasi Publik Indonesia Belum Sesuai Saran Perencanaan Keuangan

Sumber:

https://insight.jakpat.net/e-wallet-consumer-patterns-by-generation/

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook