Penanganan Karhutla di Kalimantan Tuai 61,2% Sentimen Negatif di X

Isu penanganan karhutla di X pada Agustus 2026 didominasi sentimen negatif sebesar 61,2%, diikuti sentimen positif 21,5%, dan netral 17,3%.

Sentimen Warganet X terhadap Penanganan Karhutla

(Agustus 2026)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian publik setelah asap pekat menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan. Persoalan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga penerbangan. Kondisi tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial, terutama karena publik menyoroti penanganan karhutla di lapangan yang dinilai belum optimal.

Baca Juga: Katanya/Datanya: Karhutla 2026 Jauh di Bawah Beberapa Tahun Lalu

Berdasarkan analisis Drone Emprit, isu penanganan karhutla diberitakan dalam 39.063 artikel media online. Sementara itu, pemantauan di berbagai platform media sosial mencatat 72.158 sample mentions yang berasal dari Twitter/X, Facebook, Instagram, TikTok, serta media online. Data tersebut dikumpulkan pada 1-25 Agustus 2026 hingga pukul 23.59 WIB.

Di Twitter/X, respons terhadap penanganan karhutla lebih banyak bernada negatif sebesar 61,2%. Adapun sentimen positif mencapai 21,5% dan netral sebesar 17,3%. Besarnya sentimen negatif tidak semata-mata berkaitan dengan kebakaran sebagai bencana, tetapi juga dengan respons pemerintah dalam menanganinya.

Publik menyoroti lambatnya mitigasi, terutama ketika kabut asap semakin pekat dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Kekhawatiran terhadap dampak kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan akut, turut memperkuat kritik di media sosial.

Percakapan juga berkembang pada persoalan yang lebih struktural. Sebagian pengguna mempertanyakan narasi yang hanya mengaitkan karhutla dengan faktor cuaca dan El Nino. Pemusatan titik panas di sekitar kawasan konsesi perkebunan dan pertambangan memunculkan dugaan adanya pembakaran lahan secara sengaja untuk membuka area perkebunan. Untuk itu, tuntutan publik tidak hanya diarahkan pada pemadaman, tetapi juga penegakan hukum terhadap pihak yang diduga berada di balik pembakaran.

Isu konflik kepentingan turut memperbesar sentimen negatif. Informasi mengenai dugaan penunjukan pengusaha yang memiliki keterkaitan dengan sektor sawit dan tambang untuk mengoordinasikan penanganan darurat karhutla memicu perdebatan di media sosial. Meski isu tersebut telah dibantah, pembahasannya tetap berkembang karena rekam jejak bisnis yang dianggap bersinggungan dengan aktivitas pembukaan lahan.

Di tengah dominasi kritik, terdapat pula sentimen positif. Publik mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang turun langsung meninjau lokasi karhutla serta dukungan terhadap petugas dan relawan pemadam. Tagar #PrayForKalimantan juga menjadi salah satu bentuk solidaritas masyarakat.

Percakapan mengenai karhutla mencapai titik tertinggi pada 22 Agustus 2026 dengan 11.954 mentions. Lonjakan terjadi di tengah kritik terhadap respons pemerintah dan munculnya tagar #DiManaMenagMenteri yang mempertanyakan keberadaan Menteri Kehutanan saat kabut asap semakin pekat.

Besarnya kritik menjadi tanda bahwa masyarakat mengharapkan penanganan yang lebih cepat dan terbuka. Dengan respons yang cepat, transparan, dan konsisten dapat menjadi langkah untuk mengubah kritik menjadi dukungan dalam menghadapi karhutla.

Baca Juga: 10 Korporasi Konsesi Penyumbang Titik Api Karhutla Terbanyak di Kalimantan 2026

Sumber:

https://x.com/droneempritoffc/status/2092806559244153143?s=46

Annisa Rendanianti
Ditulis oleh Annisa Rendanianti

Jurnalis data GoodStats Data

Lupa Sandi?

atau masuk dengan akun media sosial

Esc