Selain Keracunan, Ini Masalah MBG yang Paling Banyak Disorot Publik RI 2026

Kualitas rasa dan gizi serta kecocokan lauk menjadi masalah MBG yang paling banyak disorot publik, masing-masing 19,6%, disusul keracunan makanan 12,1%.

Masalah MBG yang Paling Banyak Disorot Publik RI

(Agustus 2026)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Program ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama kelompok penerima manfaat. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi sejumlah persoalan yang menjadi perhatian publik RI.

Baca Juga: 63% Publik RI Tidak Puas dengan Program MBG

Hal tersebut terlihat dalam survei nasional Poltracking Indonesia yang dilakukan pada 14-20 Agustus 2026. Survei tatap muka ini melibatkan 1.220 responden yang memiliki hak pilih. Pengambilan sampel menggunakan stratified multistage random sampling dengan margin of error ±2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.

Tingkat pengenalan masyarakat terhadap MBG terbilang tinggi. Sebanyak 93,9% responden mengaku mengetahui MBG sebagai program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran. Meski demikian, di antara responden yang mengetahui program tersebut, 49,2% menyatakan tidak puas, lebih tinggi dibandingkan 46,4% yang merasa puas.

Ketika ditanya mengenai persoalan utama pelaksanaan MBG di lingkungan yang mereka ketahui, masalah kualitas makanan menjadi sorotan terbesar. Sebanyak 19,6% responden menyebut kurangnya kualitas rasa dan gizi makanan serta kurang cocoknya lauk yang disuguhkan sebagai persoalan utama. Artinya, persoalan MBG tidak hanya berkaitan dengan keamanan makanan, tetapi juga menyangkut apakah makanan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan selera penerima manfaat.

Keracunan makanan menempati posisi berikutnya dengan persentase 12,1%. Angka ini menunjukkan bahwa isu keamanan pangan tetap menjadi perhatian serius publik. Setelah itu, 6,6% responden menyoroti kurangnya porsi makanan. Persoalan lain yang disebutkan adalah kurangnya kebersihan makanan sebesar 3,5%, keterlambatan datangnya makanan dengan 2,2%, pengelolaan sampah setelah jam makan dengan 2,0%, serta masalah lainnya sebesar 3,0%. Sementara itu, 31,4% responden tidak memberikan jawaban atau tidak mengetahui persoalan yang ditanyakan.

Besarnya perhatian terhadap kualitas makanan menjadi catatan penting karena tujuan utama MBG tidak sekadar menyediakan makanan, tetapi memastikan makanan yang diterima memenuhi aspek gizi dan dapat dikonsumsi dengan baik. Jika rasa, kandungan gizi, kesesuaian lauk, hingga porsi masih menjadi persoalan, efektivitas program dapat dipersepsikan belum sepenuhnya memenuhi harapan masyarakat.

Penilaian tersebut turut tercermin dari pandangan publik mengenai keberlanjutan MBG. Sebanyak 44,6% responden menilai program tersebut tidak perlu dilanjutkan, sedangkan 42,1% lainnya menganggap MBG tetap perlu dilanjutkan.

Dengan tingkat ketidakpuasan yang masih cukup tinggi, hasil survei ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengkaji kembali pelaksanaan MBG agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. Pengkajian ulang terhadap kualitas menu, keamanan pangan, porsi, serta pengelolaan makanan menjadi penting agar program yang menyasar kebutuhan gizi masyarakat dapat berjalan lebih optimal.

Baca Juga: 88% Manfaat MBG Dinilai Mengalir ke Elit dan Mitra Program, Anak-Anak Hanya 6,5%

Sumber:

https://poltracking.com/rilis-temuan-survei-nasional-tatap-muka-poltracking-indonesia-membaca-tren-kepuasan-publik-terhadap-pemerintahan-prabowo-gibran/

Annisa Rendanianti
Ditulis oleh Annisa Rendanianti

Jurnalis data GoodStats Data

Lupa Sandi?

atau masuk dengan akun media sosial

Esc