Keputusan Indonesia bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza atau Board of Peace (BoP) pada 22 Januari 2026 menjadi salah satu isu internasional yang menyita perhatian publik. Keputusan ini diambil oleh Presiden Prabowo Subianto di sela kegiatan World Economic Forum yang berlangsung di Davos, Swiss. Hal tersebut memantik diskusi luas, baik di media online maupun di media sosial.
Berdasarkan data Drone Emprit, Sentimen Publik terhadap keterlibatan Indonesia di Dewa Perdamaian Gaza diberitakan dalam 1.052 artikel media online dengan total 3.128 mentions. Sementara itu, di media sosial tercatat 19.741 sample mentions yang berasal dari berbagai platform, yakni Twitter/X, Facebook, Instagram, TikTok, serta media online. Pengumpulan data dilakukan pada periode 21-25 Januari 2026 pukul 23.59 WIB.
Baca Juga: Analisis Sentimen Bergabungnya Indonesia dengan The Board of Peace Gaza
Di tengah beragam respons publik, Twitter/X menjadi salah satu media utama bagi warganet untuk menyampaikan pendapat. Data Drone Emprit menunjukkan bahwa percakapan didominasi oleh sentimen negatif dengan persentase mencapai 69,9%. Kritik yang muncul antara lain menilai langkah Indonesia sebagai bentuk normalisasi atau bahkan pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina. Warganet juga menyoroti tidak dilibatkannya pihak Palestina dalam Dewan Perdamaian Gaza, sehingga forum tersebut dianggap cacat secara logika dan tidak merepresentasikan aspirasi pemilik tanah.
Selain itu, isu kontribusi dana yang disebut mencapai sekitar Rp17 triliun turut memicu kemarahan warganet. Mereka menilai kebijakan tersebut sebagai pemborosan anggaran negara, terutama di tengah kondisi ekonomi domestik yang masih menghadapi berbagai tantangan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa pendanaan untuk iuran tersebut berpotensi menggunakan sebagian dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), meskipun hingga kini belum ada pembahasan atau keputusan final dan sumber pendanaan tetap menunggu arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
"Saya pikir, sebagian besar akan dari anggaran juga kan, dari APBN juga," ujarnya, mengutip, Antara (28/01/2026).
Di saat yang sama, muncul kekhawatiran bahwa keterlibatan Indonesia dapat dimaknai sebagai dukungan terhadap proyek kolonial “New Gaza”. Sejumlah pengamat pun menilai langkah ini berisiko menempatkan Indonesia dalam struktur internasional baru yang berpotensi dikendalikan secara unilateral oleh Amerika Serikat.
Di sisi lain, sentimen positif tetap hadir meski dalam porsi lebih kecil, yakni sebesar 11,1% dengan narasi yang menekankan bahwa langkah Indonesia sejalan dengan mandat konstitusi dan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Sebagian warganet juga memandang keikutsertaan Indonesia sebagai peluang bersejarah untuk berkontribusi dalam upaya perdamaian Gaza, serta meyakini bahwa kehadiran Indonesia di dalam forum tersebut dapat memengaruhi kebijakan dari dalam. Adapun sentimen netral tercatat sebesar 19%.
Baca Juga: Indonesia Ikut Trump di Dewan Perdamaian Gaza, Sentimen Publik 67% Negatif
Sumber:
https://x.com/droneempritoffc/status/2015708243822313556?s=48