Sepanjang Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto aktif menyampaikan pidato dalam berbagai agenda kenegaraan, mulai dari Hari Bhayangkara, Hari Koperasi Nasional, sidang kabinet, peresmian proyek strategis nasional, hingga Puncak Hari Lahir (Harlah) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sebagian besar pidato berisi penyampaian arah kebijakan pemerintah, pembangunan ekonomi, ketahanan pangan, serta program prioritas nasional.
Baca Juga: Pemimpin Negara dengan Durasi Pidato Terpanjang di PBB
Namun, di antara seluruh rangkaian pidato tersebut, pidato Presiden Prabowo pada Puncak Harlah PKB, menjadi yang paling menyita perhatian publik. Saat itu, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak antikritik. Meski demikian, ia juga menyatakan masih ada pihak-pihak di Indonesia yang lebih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain daripada kepentingan nasional.
“Tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut ‘londo ireng', yang ikut Belanda perang melawan kita. 'Londo-londo ireng' ini sampai sekarang masih ada,” ujarnya mengutip Tempo (24/7/2026).
Ia kemudian melanjutkan pernyataannya dengan menyebut sejumlah profesi dan kelompok masyarakat.
“Hanya dia sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM," lanjutnya.
Secara historis, londo ireng merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut orang pribumi yang dianggap berpihak kepada pemerintah kolonial Belanda atau mengkhianati kepentingan bangsanya sendiri.
Pernyataan tersebut kemudian memicu kontroversi. Sejumlah pihak menilai penyebutan wartawan atau jurnalis, pengamat, dan LSM dalam satu rangkaian dengan istilah “londo ireng” dapat dipahami sebagai pelabelan terhadap profesi maupun kelompok masyarakat sipil yang menjalankan fungsi kritik dan pengawasan terhadap pemerintah.
Besarnya perhatian publik terhadap pidato tersebut juga tercermin dalam tingginya percakapan di ruang digital. Berdasarkan pemantauan Drone Emprit pada periode 1-28 Juli 2026, isu mengenai pidato Presiden Prabowo menghasilkan 3.241 mention di media online dan 18.519 sample mention di media sosial yang berasal dari platform X, Facebook, Instagram, TikTok, serta media online.
Hasil analisis emosi menunjukkan bahwa marah menjadi emosi yang paling dominan dengan proporsi mencapai 48%. Di posisi berikutnya terdapat emosi terkejut sebesar 13% dan antisipasi sebesar 12%, yang menunjukkan banyak publik RI merespons isu tersebut dengan rasa terkejut sekaligus menantikan perkembangan lanjutan.
Sementara itu, emosi positif muncul dalam proporsi yang jauh lebih kecil. Emosi senang dan percaya masing-masing tercatat sebesar 7%, jumlah yang sama dengan kategori jijik. Adapun emosi takut mencapai 5%, sedangkan sedih menjadi emosi dengan persentase terendah, yakni 2%.
Pada akhirnya, besarnya perhatian publik terhadap pidato Presiden menunjukkan bahwa setiap pilihan kata memiliki dampak yang luas tidak hanya membentuk opini, tetapi juga memengaruhi dinamika emosi publik di ruang digital. Karena itu, komunikasi yang jelas, inklusif, dan terbuka terhadap kritik menjadi penting untuk membangun kepercayaan serta menjaga kualitas dialog antara pemerintah dan masyarakat.
Baca Juga: Prabowo Sorot Swasembada Beras RI di Pidato PBB, Rencana Ekspor hingga Palestina
Sumber:
https://x.com/droneempritoffc/status/2082737173682630933?s=48