10 Saham Emiten Sawit Melejit di Tengah Karhutla Kalimantan

Saham 10 emiten sawit di BEI melonjak hingga 52,74% selama 14 - 21 Agustus 2026, dipimpin JARR di tengah kebijakan B50 dan isu karhutla.

10 Emiten Sawit yang Sahamnya Melejit

(Per 21 Agustus 2026)

Sektor kelapa sawit memiliki kontribusi ekonomi yang luas, mulai dari menghasilkan devisa hingga menyediakan lapangan kerja. Pemanfaatan komoditas ini juga kian menjadi tumpuan dalam kebijakan strategis nasional.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya telah menjalankan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) untuk meningkatkan produktivitas kebun. Di sisi lain, implementasi mandatori B50 mendorong peningkatan serapan crude palm oil (CPO) di dalam negeri sekaligus ditujukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Sebagai produsen minyak sawit mentah terbesar dunia, industri ini kembali menjadi sorotan publik di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan.

Menghadapi dinamika kebijakan dan situasi lingkungan tersebut, deretan saham emiten sawit di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan pergerakan harga yang beragam per 21 Agustus 2026.

Baca Juga: Luas Kebakaran Hutan Kalimantan Tembus 57 Ribu Ha hingga Juni 2026

Jhonlin Agro Raya Tbk. (JARR) memimpin daftar dengan kenaikan paling agresif. Sahamnya melesat 52,74% dari Rp2.010 menjadi Rp3.070, didukung wilayah operasional di Kalimantan Selatan.

Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) menyusul di posisi kedua usai melonjak 24,72% ke level Rp111, dengan fasilitas perkebunan di Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

Berada di peringkat ketiga dengan lompatan yang tajam, Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) mengantongi 9,50% ke posisi Rp1.960. Wilayah operasionalnya mencakup Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Posisinya diikuti oleh Sumber Tani Agung Resources Tbk. (STAA) yang mencatat Rp1.160 atau naik sebesar 9,43%. Perkebunannya tersebar di lima provinsi, meliputi Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Sementara itu, Gozco Plantations Tbk. (GZCO) yang beroperasi di Sumatra Selatan menyusul di posisi kelima yang menguat 8,28% ke Rp183.

Memasuki paruh kedua daftar, persaingan berlanjut pada kelompok emiten berikutnya.

Peringkat keenam diisi oleh Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) yang naik sebesar 7,87% ke Rp1.440, dengan wilayah perkebunan di Kalimantan.

Pergerakannya dibayangi oleh Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) sebesar Rp7.900 atau naik 5,69%. Persebaran kebunnya di Aceh, Riau, Jambi, Kalimantan, hingga Sulawesi. Sedangkan Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT) yang beroperasi di Sumatra Utara, Belitung, dan Kalimantan Barat menguat sebesar 5,28% ke level Rp1.595 .

Menutup jajaran sepuluh besar, Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) merangkak 5,11% ke posisi kesembilan seharga Rp925 melalui pengelolaan perkebunan di Kalimantan Tengah. Sedangkan Cisadane Sawit Raya Tbk. (CSRA), hadir di peringkat kesepuluh dengan perolehan kenaikan 4,73% ke Rp775, didukung pengembangan kebun di Sumatra Utara.

Berdasarkan data tersebut, gelombang pasar di tengah bayang-bayang karhutla dan hilirisasi energi ini menegaskan Sumatra dan Kalimantan sebagai urat nadi industri sawit nasional.

Baca Juga: Produksi Kelapa Sawit Indonesia Capai 31 Juta Ton pada 2025

Sumber:

https://www.idx.co.id/id/data-pasar/ringkasan-perdagangan/ringkasan-saham/

Rosita Fatimah Azahra
Ditulis oleh Rosita Fatimah Azahra

Jurnalis data GoodStats Data

Lupa Sandi?

atau masuk dengan akun media sosial

Esc