Berdasarkan data Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia), kondisi keanekaragaman hayati aves di Indonesia kini menghadapi tantangan. Per Januari 2026, organisasi konservasi ini mencatatkan sebanyak 159 spesies burung di Indonesia berstatus terancam punah secara global atau globally threatened species (GTS).
Jika dirinci berdasarkan tingkat keterancamannya, sebanyak 29 spesies burung terancam punah telah dikategorikan berstatus Kritis atau critically endangered (CR). Status ini merupakan tingkat risiko kepunahan paling tinggi bagi satwa di alam liar.
Sementara itu, sebanyak 49 spesies burung ditetapkan berstatus Genting atau endangered (EN), yaitu kelompok spesies yang menghadapi risiko kepunahan sangat tinggi di habitat aslinya dalam waktu dekat.
Baca Juga: 10 Negara dengan Spesies Mamalia dan Burung Terancam Punah Terbanyak 2025, Indonesia Nomor 1
Adapun sisanya, terdapat 81 spesies burung lainnya yang masuk dalam kategori Rentan atau vulnerable (VU). Spesies dalam kategori ini diperkirakan akan menghadapi ancaman kepunahan tingkat tinggi di masa depan jika tekanan terhadap populasinya terus berlanjut.
Secara akumulatif, angka spesies burung terancam punah di Indonesia pada periode ini mengalami penurunan dibanding laporan tahun 2025 sebelumnya yang mencatatkan total 164 spesies. Pada periode lalu, rinciannya terdiri dari 30 spesies berstatus CR, 52 spesies berstatus EN, dan 82 spesies berstatus VU.
Dalam laporannya, Burung Indonesia menjelaskan bahwa perubahan status pada beberapa jenis burung terjadi karena adanya pembaruan data ilmiah yang memberikan gambaran populasi secara lebih akurat di alam bebas. Salah satu contohnya adalah burung-madu sangihe yang mengalami perbaikan status keterancaman dari Genting (EN) menjadi Rentan (VU).
Mengenai faktor penyebabnya, ancaman terbesar bagi populasi burung di Indonesia masih didominasi oleh aktivitas perubahan dan pemanfaatan fungsi lahan.
Hasil kajian menunjukkan tiga sumber tekanan utama yang paling sering memicu keterancaman ini, yaitu ekspansi pertanian (termasuk perkebunan) dan akuakultur, perburuan serta penangkapan satwa liar, hingga pembalakan kayu.
Selain faktor utama tersebut, kelestarian spesies burung liar juga dibayang-bayangi oleh alih fungsi lahan untuk permukiman dan kawasan komersial, kebakaran hutan, invasi spesies asing, pertambangan dan energi, polusi, gangguan aktivitas manusia, hingga dampak perubahan iklim.
Pola ini menegaskan bahwa berbagai jenis burung di Indonesia kini menghadapi tekanan berlapis, berupa kombinasi antara kerusakan habitat asli dan perburuan langsung di alam.
Head of Conservation & Development Burung Indonesia, Adi Widyanto berharap publikasi ini tidak hanya menjadi rujukan ilmiah, tetapi juga dimanfaatkan secara luas dalam praktik konservasi.
“Dokumen ini digunakan oleh berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, organisasi nonpemerintah, hingga praktisi konservasi. Data di dalamnya dipakai untuk perencanaan program konservasi, survei, hingga identifikasi satwa. Rujukan taksonomi yang digunakan juga menjadi dasar bagi berbagai kerja prioritas konservasi,” ujarnya dalam siaran persnya, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga: 10 Negara dengan Spesies Burung Terbanyak di Dunia, Ada Indonesia
Sumber:
https://drive.google.com/file/d/1nQD_Fi9JTWE_tRs7N4HEwZVcw3kN6V5-/view