3 Jenis Beban Pengasuhan Rumah Tangga Urban, Mana yang Paling Berat?
Studi Populix mengungkap tiga beban pengasuhan rumah tangga urban. Kekurangan dukungan pengasuhan menjadi beban tertinggi dengan skor 57,5.
3 Jenis Beban Pengasuhan Rumah Tangga Urban
(Tahun 2026)
Unduh
Rumah tangga perkotaan tidak hanya menghadapi tuntutan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari, tetapi juga tanggung jawab mengasuh anak serta mengurus kebutuhan rumah. Beban tersebut kerap diukur berdasarkan banyaknya waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan domestik. Namun, pengasuhan juga mencakup tanggung jawab mengambil keputusan dan ketersediaan dukungan layanan yang membantu keluarga menjalankan aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Menjerat Diri Sendiri demi Gaji: Mengapa 95% Pekerja Indonesia Terjebak dalam Ilusi Stabilitas?
Studi Populix bertajuk Studi Lanjut Kesenjangan Upah: Beban Pengasuhan dan Kerja Domestik yang Luput dari Hitungan Ekonomi mengukur beban tersebut melalui Indeks Beban Pengasuhan Berbasis Gender atau Gendered Care Burden Index (GCBI). Survei daring ini melibatkan 1.000 rumah tangga urban pada Maret-April 2026. Indeks tersebut menggunakan skala 0-100, dengan skor yang semakin tinggi menunjukkan beban yang semakin berat.
Hasilnya menunjukkan, beban pengasuhan rumah tangga urban berada pada skor 45,7 dan termasuk kategori menengah. Dari tiga dimensi yang diukur, kekurangan dukungan pengasuhan menjadi beban dengan skor tertinggi, yakni 57,5. Dimensi ini mengukur keterbatasan dukungan layanan pengasuhan, termasuk akses dan keterjangkauan biaya penitipan anak.
Posisi berikutnya ditempati beban keputusan dan mental dengan skor 54,6. Dimensi ini berkaitan dengan tanggung jawab mengatur kebutuhan rumah tangga, pengambilan keputusan pengeluaran harian, serta frekuensi merasa kewalahan.
Sementara itu, beban waktu mencatat skor paling rendah, yaitu 24,9. Beban ini mengukur waktu yang digunakan untuk pekerjaan berbayar, pekerjaan domestik, dan pengasuhan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa besarnya beban pengasuhan tidak semata-mata berkaitan dengan lamanya waktu bekerja. Perempuan, misalnya, memiliki total waktu kerja harian sekitar 11,72 jam, sedangkan laki-laki 11,41 jam. Namun, perempuan menghabiskan 3,24 jam untuk pekerjaan domestik, lebih lama dibandingkan laki-laki yang mencapai 2,55 jam. Selisih 0,69 jam per hari tersebut setara dengan sekitar 252 jam dalam setahun.
Perbedaan juga terlihat pada beban keputusan dan mental. Perempuan mencatat skor 59,7, sedangkan laki-laki 48,5. Sebanyak 71,7% perempuan mengatur 60% atau lebih keputusan pengeluaran harian rumah tangga. Selain itu, 34,9% perempuan mengaku sering atau sangat sering merasa kewalahan karena tanggung jawab rumah tangga, dibandingkan 18,4% laki-laki.
Data Populix memperlihatkan bahwa dukungan pengasuhan menjadi salah satu persoalan penting bagi rumah tangga urban. Sebanyak 45,5% rumah tangga tidak menggunakan layanan penitipan anak apa pun. Di sisi lain, 88% responden menyatakan mungkin atau sangat mungkin menggunakan layanan penitipan yang terjangkau, dekat, dan berkualitas.
Dengan demikian, beban pengasuhan rumah tangga urban tidak hanya hadir dalam bentuk waktu yang tersita. Tanggung jawab mengambil keputusan serta keterbatasan dukungan pengasuhan turut menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan. Pemahaman yang lebih luas mengenai beban tersebut dapat membantu melihat kebutuhan keluarga perkotaan secara lebih utuh.
Baca Juga: Tingkat Urbanisasi di Negara ASEAN 2025
Sumber:
https://populix.co/id/data-hub/reports/studi-lanjut-kesenjangan-upah-beban-pengasuhan-dan-kerja-domestik-yang-luput-dari-hitungan-ekonomi
Ditulis oleh Annisa Rendanianti
Jurnalis data GoodStats Data
Bagikan statistik ini:
Artikel Terkait
10 Provinsi dengan Kerawanan Pangan Tertinggi 2025, NTT Paling Parah
Simak Rincian Nilai Tukar Pembudidaya Ikan Triwulan II 2026