45% Rumah Tangga RI Tidak Menggunakan Daycare, Apa Alasannya?
Sebanyak 43,8% responden menyebut biaya yang terlalu mahal sebagai alasan utama tidak menggunakan layanan daycare.
5 Alasan Rumah Tangga Perkotaan Tidak Menggunakan Daycare
(Tahun 2026)
Unduh
Pengasuhan anak menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh keluarga, terutama bagi orang tua yang tetap bekerja. Daycare atau layanan penitipan anak dapat menjadi pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan pengasuhan selama orang tua menjalankan aktivitas pekerjaan. Namun, tidak semua keluarga memilih menggunakan layanan tersebut karena terdapat sejumlah pertimbangan, mulai dari biaya hingga kepercayaan terhadap kualitas layanan.
Baca Juga: 10 Kawasan Perkotaan dengan Populasi Terbesar di Dunia 2025, Ada Jakarta?
Berdasarkan studi Populix terhadap 1.000 rumah tangga di wilayah perkotaan pada Maret-April 2026, sebanyak 45,5% rumah tangga tidak menggunakan layanan pengasuhan anak. Sementara itu, 29,7% menggunakan layanan pengasuhan formal berbayar seperti daycare dan 24,8% mengandalkan pengasuhan informal dari keluarga.
Dari 703 responden yang tidak menggunakan penitipan anak formal, alasan paling banyak adalah biaya yang terlalu mahal. Sebanyak 43,8% responden menyebut faktor biaya sebagai hambatan utama. Artinya, keterjangkauan masih menjadi persoalan penting bagi keluarga yang mempertimbangkan daycare.
Alasan kedua adalah tidak percaya terhadap kualitas layanan, dengan persentase 23,2%. Keraguan tersebut menunjukkan bahwa keluarga tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga keamanan dan mutu pengasuhan yang diberikan. Dalam laporan Populix, persoalan kualitas juga dikaitkan dengan kebutuhan akan standar mutu yang dapat meningkatkan kepercayaan orang tua.
Berikutnya, 18,9% responden menyatakan layanan penitipan anak tidak tersedia di sekitar tempat tinggal mereka. Angka ini lebih kecil dibandingkan hambatan biaya dan kualitas. Dengan demikian, keterbatasan jumlah fasilitas bukan menjadi alasan utama bagi sebagian besar responden yang tidak menggunakan daycare.
Sebanyak 7,7% responden tidak menggunakan penitipan formal karena jam operasional layanan tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Jadwal daycare yang kurang fleksibel dapat menyulitkan orang tua yang memiliki waktu kerja tertentu atau kebutuhan pengasuhan di luar jam layanan.
Sementara itu, 6,4% responden mengaku tidak mengetahui informasi mengenai layanan penitipan anak. Faktor ini menjadi alasan dengan persentase paling kecil dalam survei.
Temuan tersebut memperlihatkan adanya jarak antara kebutuhan keluarga dan kemampuan mengakses layanan. Minat terhadap daycare sebenarnya cukup tinggi. Sebanyak 88% responden menyatakan mungkin atau sangat mungkin menggunakan layanan penitipan anak apabila biaya terjangkau, lokasi dekat, jam operasional sesuai, serta kualitasnya terjamin.
Persoalan daycare tidak semata-mata mengenai jumlah fasilitas. Keterjangkauan biaya, jaminan kualitas, akses informasi, serta kesesuaian waktu menjadi bagian penting dalam menentukan pilihan keluarga. Layanan pengasuhan yang lebih mudah dijangkau berpotensi membantu orang tua menjalankan pekerjaan sekaligus memenuhi kebutuhan pengasuhan anak.
Baca Juga: 72% Pekerja Rumah Tangga Tidak Dapat Cuti Tahunan
Sumber:
https://populix.co/id/data-hub/reports/studi-lanjut-kesenjangan-upah-beban-pengasuhan-dan-kerja-domestik-yang-luput-dari-hitungan-ekonomi
Ditulis oleh Annisa Rendanianti
Jurnalis data GoodStats Data
Bagikan statistik ini: