Potret Penggunaan Layanan Penitipan Anak pada 2026

Sebanyak 45,5% rumah tangga perkotaan pada 2026 tidak menggunakan layanan penitipan anak, sementara 29,7% memakai layanan formal berbayar/daycare.

Status Penggunaan Layanan Penitipan Anak di Rumah Tangga Perkotaan

(Tahun 2026)

Pengasuhan anak menjadi salah satu bagian penting dalam keseharian rumah tangga, terutama bagi keluarga yang memiliki orang tua bekerja. Selain membutuhkan waktu dan tenaga, pengasuhan juga berkaitan dengan ketersediaan layanan pendukung yang dapat membantu keluarga menjalankan aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut terlihat dalam studi Populix yang mengkaji beban pengasuhan pada rumah tangga perkotaan di Indonesia.

Baca Juga: 72% Pekerja Rumah Tangga Tidak Dapat Cuti Tahunan

Studi Populix terhadap 1.000 rumah tangga perkotaan pada Maret-April 2026 menunjukkan bahwa penggunaan layanan penitipan anak masih terbagi dalam beberapa pola. Sebanyak 29,7% responden menggunakan layanan penitipan anak formal berbayar, sedangkan 24,8% mengandalkan penitipan informal oleh keluarga. Sementara itu, 45,5% rumah tangga tidak menggunakan layanan penitipan anak apa pun.

Penitipan formal dalam studi ini merujuk pada layanan berbayar yang disediakan lembaga atau daycare. Adapun penitipan informal merupakan pengasuhan yang dilakukan anggota keluarga, seperti kakek atau nenek.

Perbedaan penggunaan juga terlihat berdasarkan gender responden. Sebanyak 50,9% laki-laki melaporkan tidak menggunakan layanan penitipan anak apa pun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perempuan yang mencapai 41,1%.

Studi tersebut juga memperlihatkan adanya keterkaitan antara penggunaan layanan penitipan dan skor beban pengasuhan. Rumah tangga yang tidak menggunakan layanan pengasuhan anak apa pun memiliki skor beban pengasuhan 48,6.

Sementara itu, skor pada pengguna penitipan formal mencapai 43,8 dan pengguna penitipan informal oleh keluarga sebesar 42,4. Namun, laporan menegaskan bahwa angka tersebut menunjukkan keterkaitan, bukan hubungan sebab-akibat.

Di sisi lain, biaya menjadi hambatan utama bagi keluarga yang tidak menggunakan penitipan formal. Sebanyak 43,8% responden menyebut biaya terlalu mahal sebagai alasan, disusul keraguan terhadap kualitas layanan sebesar 23,2%. Hanya 18,9% yang menyatakan layanan tidak tersedia di sekitar tempat tinggal.

Minat terhadap layanan penitipan yang terjangkau sebenarnya cukup tinggi. Sebanyak 88% responden menyatakan mungkin atau sangat mungkin menggunakan layanan apabila tersedia dengan biaya terjangkau, lokasi dekat, jam operasional sesuai, serta kualitas yang terjamin. Namun, 65,7% responden menyatakan hanya mampu membayar hingga Rp600 ribu per bulan.

Data tersebut menunjukkan adanya jarak antara kebutuhan keluarga dan kemampuan mengakses layanan penitipan anak. Bagi rumah tangga perkotaan, ketersediaan layanan yang terjangkau dan dapat dipercaya menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pengasuhan sekaligus aktivitas kerja.

Baca Juga: 10 Kawasan Perkotaan dengan Populasi Terbesar di Dunia 2025, Ada Jakarta?

Sumber:

https://populix.co/id/data-hub/reports/studi-lanjut-kesenjangan-upah-beban-pengasuhan-dan-kerja-domestik-yang-luput-dari-hitungan-ekonomi

Annisa Rendanianti
Ditulis oleh Annisa Rendanianti

Jurnalis data GoodStats Data

Lupa Sandi?

atau masuk dengan akun media sosial

Esc