Tanggal 21 Maret merupakan Hari Hutan Sedunia, perayaan ini telah berumur 12 tahun dan dirayakan pertama kali pada tanggal 21 Maret 2013. Perayaan ini diawali dari sidang umum perserikatan bangsa-bangsa (PBB) yang digelar pada November 2012. Perayaan Hari Hutan Sedunia merupakan sebuah inisiatif untuk membentuk kepedulian terhadap keberlangsungan hutan di seluruh dunia.
Hutan Indonesia merupakan sebuah aset tidak hanya bagi negara sendiri namun juga untuk dunia, sayangnya hutan Indonesia perlahan mulai terdegradasi, salah satu penyebabnya adalah karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan Sistem Pemantauan karhutla (SiPongi) yang dikelola oleh Kementerian Kehutanan (Kemenhut), selama tahun 2024 total 376.805,05 ha hutan dan lahan mengalami kebakaran.
Wilayah yang paling terdampak oleh karhutla adalah Bali-Nusa Tenggara, seluas 159.595,60 ha hutan dan lahan di wilayah ini terbakar. Provinsi NTB dan NTT menjadi dua provinsi dengan karhutla terparah di Indonesia, luas karhutla di NTB berada di angka 113.089,51 ha, kemudian di NTT karhutla berdampak pada 46.189,73 ha hutan dan lahan.
Wilayah Sumatra berada di urutan kedua dengan luas karhutla sebesar 67.440,13 ha. Wilayah Kalimantan menjadi peringkat ketiga dengan luas karhutla sebesar 65.608,11 ha. Wilayah Papua-Maluku menduduki peringkat keempat dengan luas karhutla di angka 42.026,63 ha.
Wilayah Jawa berada di posisi kelima dengan luas karhutla sebesar 29.647,78 ha. Wilayah Sulawesi merupakan wilayah paling aman dari karhutla, dengan luas karhutla hanya 12.486,80 ha. Papua Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Sumatra Selatan, Maluku, Lampung, Kalimantan Tengah masuk ke dalam sepuluh besar provinsi yang paling terdampak oleh karhutla setelah NTB dan NTT.
Baca Juga: Provinsi dengan Luas Kebakaran Hutan dan Lahan Terbesar 2024