Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum mempererat kebersamaan. YouGov melakukan survei terhadap 6.308 responden berusia di atas 18 tahun di lima negara, mencakup Indonesia, Malaysia, Turki, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab pada Desember 2025 untuk memahami perubahan kebiasaan responden selama Ramadan 2026.
Hasilnya, sebanyak 56% responden menyatakan akan menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga. Angka ini mencerminkan kuatnya posisi Ramadan sebagai momen refleksi sekaligus penguatan relasi dalam lingkup rumah tangga, baik melalui buka puasa bersama, sahur, tarawih, maupun aktivitas sederhana di rumah.
Baca Juga: Simak Ragam Makna Ramadan 2026 bagi Publik RI
Sementara itu, 38% responden menilai waktu kebersamaan dengan keluarga akan sama saja dibandingkan periode biasanya. Artinya, bagi sebagian masyarakat, intensitas interaksi keluarga memang sudah terjaga tanpa perlu perubahan signifikan saat Ramadan.
Adapun hanya 5% yang menyebut waktu bersama keluarga akan berkurang. Persentase ini relatif kecil, menunjukkan bahwa Ramadan tetap identik dengan suasana kolektif dan kebersamaan, meskipun sebagian orang mungkin memiliki keterbatasan waktu karena pekerjaan atau aktivitas lainnya.
Tidak hanya di Indonesia, keempat negara lain dalam survei juga menunjukkan hal yang serupa. Di Uni Emirat Arab, 68% responden berencana akan menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga dan hanya 3% yang merasa waktunya dengan keluarga akan berkurang.
Lebih lanjut, 67% responden Turki juga akan lebih sering bertemu keluarga selama Ramadan 2026, disusul 63% responden Arab Saudi dan 49% responden Malaysia.
Data ini menegaskan bahwa Ramadan 2026 dipandang sebagai ruang untuk memperkuat ikatan keluarga. Di tengah perubahan pola hidup dan kesibukan sehari-hari, momen bulan suci tetap menjadi jangkar sosial yang menyatukan anggota keluarga dalam satu ritme kebersamaan.
Baca Juga: Kendaraan Pribadi Masih Jadi Andalan Mudik 2026
Sumber:
https://yougov.com/articles/54011-ramadan-2026-consumer-insights-5-key-findings-across-indonesia-malaysia-saudi-arabia-turkiye-and-the-uae