6 Negara dengan Pemain Keturunan Terbanyak di ASEAN Hyundai Cup 2026
Filipina menempati urutan teratas dengan 14 pemain keturunan, disusul oleh Timnas Indonesia yang mendaftarkan 11 pilar diaspora.
Jumlah Pemain Keturunan di ASEAN Hyundai Cup
(Tahun 2026)
Unduh
Pergeseran komposisi skuad tim nasional di kawasan Asia Tenggara kini semakin kental dengan kehadiran para pemain keturunan atau eks-diaspora. Fenomena adopsi bakat berdarah campuran dari luar negeri ini menjadi langkah strategis bagi banyak negara guna mendongkrak level kompetitif mereka di ajang ASEAN Hyundai Cup 2026.
Merujuk pada Seasia Goal, Filipina tampil kokoh memimpin daftar sebagai negara yang paling masif memanfaatkan talenta keturunan dengan total 14 pemain. Tingginya angka pemain diaspora di tubuh skuad The Azkals disokong penuh oleh sistem hukum nasional mereka yang melegalkan status kewarganegaraan ganda.
Kebijakan administratif yang fleksibel ini memungkinkan pemain kelahiran luar negeri seperti Quincy Kammeraad, Adrian Ugelvik, hingga bek berbakat Angelo Brückner bergabung tanpa harus melewati proses naturalisasi hukum yang rumit.
Baca Juga: Ranking Liga Domestik AFC Buktikan Nasib Timnas di ASEAN Hyundai Cup 2026
Situasi ini berbanding terbalik dengan Indonesia yang berada pada urutan kedua dengan total 11 pemain keturunan. Sistem hukum Indonesia menganut prinsip paspor tunggal, sehingga pilar bintang seperti Jordi Amat, Sandy Walsh, Thom Haye, dan Mitchell Baker wajib menuntaskan jalur birokrasi naturalisasi resmi demi legal membela Skuad Garuda.
Menduduki peringkat ketiga, Timor Leste tampil cukup mengejutkan dengan mengandalkan delapan pemain berdarah campuran di dalam daftar skuad utama mereka. Kebijakan kewarganegaraan ganda yang diakui dalam hukum Timor Leste membantu mempermudah para pemain diaspora untuk mengklaim hak paspor mereka.
Kendati demikian, barisan pemain anyar semacam Dylan Niski hingga João Varudo tidak serta-merta bisa langsung didaftarkan, karena mereka tetap harus menuntaskan proses birokrasi verifikasi dokumen keturunan yang ketat di bawah regulasi kelayakan pemain FIFA.
Beralih ke Singapura dan Tailan, kedua negara ini memilih bersikap jauh lebih selektif dengan masing-masing hanya mendaftarkan tiga pemain berdarah campuran. Singapura, yang sangat teguh memegang prinsip satu kewarganegaraan, kini lebih berfokus pada pemain keturunan yang memiliki kedekatan kultur seperti Jacob Mahler, di mana sang pemain bisa membela negara tanpa mewajibkan proses naturalisasi tambahan.
Senada dengan hal tersebut, Tailan juga memiliki strategi penjaringan talenta diaspora yang terukur. Masuknya nama-nama tangguh seperti Manuel Bihr, Patrik Gustavsson, hingga bek anyar Oussama Thiangkham membuktikan bahwa mereka mampu mengoptimalkan pemain blasteran yang memiliki hak darah murni, tanpa harus melanggar fondasi identitas lokal dan ketatnya prinsip kewarganegaraan tunggal di negara tersebut.
Vietnam menempati posisi paling buncit dalam pemanfaatan pemain keturunan di putaran final turnamen ini dengan hanya membawa dua pilar andalan. Tantangan terbesar sepak bola Vietnam sebelumnya bersumber dari proses birokrasi naturalisasi formal yang memakan waktu cukup panjang.
Namun, menyusul amandemen undang-undang kewarganegaraan terbaru, para talenta diaspora kini mendapatkan kemudahan khusus. Keberhasilan regulasi baru ini tercermin dari suksesnya proses administrasi penjaga gawang Lê Giang Patrik yang akhirnya resmi menjalani debutnya membela panji bintang emas di Piala AFF 2026, menyusul jejak kiper veteran Đặng Văn Lâm.
Baca Juga: Daftar Negara-Negara Penganut Kewarganegaraan Ganda
Sumber:
https://www.instagram.com/p/DbSyxXklNCo
Ditulis oleh Demas Reyhan Adritama
IT & Sports Enthusiast
Bagikan statistik ini: