7 Kabupaten di Aceh Masih Belum Pulih
Pemda Aceh mencatat dari 18 kabupaten/kota di Aceh, sebanyak 7 daerah di antaranya belum pulih dan butuh perhatian khusus pasca bencana banjir Sumatra 2025.
Status Pemulihan Kab./Kota di Aceh Pasca Banjir Sumatra
(Per 27 Juli 2026)
Unduh
Poin Penting
- 10 dari 18 kabupaten/kota di Aceh telah pulih pasca-banjir Sumatra per 27 Juli 2026.
- Kota Langsa memiliki status pemulihan yang hampir mendekati normal.
- Tujuh kabupaten masih tergolong lambat pulih pasca-banjir Sumatra.
- Tujuh wilayah yang lambat pulih terkonsentrasi di wilayah timur-utara dan dataran tinggi Aceh.
- Sebanyak 129 kartu keluarga (KK) masih menjadi pengungsi hingga 27 Juli 2026.
Berdasarkan data Pemerintah Daerah (Pemda) Aceh yang dirilis melalui laman tanggapi.acehprov.go.id, belum seluruh wilayah di provinsi ini mengalami pemulihan pasca banjir yang melanda Pulau Sumatra pada November 2025 lalu.
Per 27 Juli 2026, kabupaten/kota di Aceh yang telah berhasil mencapai status normal dalam masa pemulihan pasca banjir Sumatra baru tercatat sebanyak 10 wilayah.
Kesepuluh daerah tersebut meliputi Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Aceh Besar, Aceh Singkil, Nagan Raya, Lhokseumawe, Subulussalam, Pidie, dan Bireuen.
Baca Juga: 28 Perusahaan Penyebab Banjir Sumatra Telah Dicabut Izinnya
Sementara itu, daerah dengan status pemulihan yang hampir mendekati normal pasca bencana banjir di Aceh ini hanya dimiliki oleh satu kota saja, yaitu Langsa.
Di sisi lain, Pemda mencatat masih terdapat tujuh kabupaten yang tergolong lambat pulih dan memerlukan atensi khusus terkait kedaruratan pasca banjir Sumatra 2025.
Ketujuh wilayah yang kondisi pasca banjirnya masih memprihatinkan tersebut adalah Aceh Tamiang, Aceh Utara, Pidie Jaya, Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Timur.
Adapun tujuh wilayah atensi dampak banjir Aceh ini terkonsentrasi di dua kawasan utama. Kawasan pertama adalah wilayah timur-utara Provinsi Aceh yang meliputi Aceh Tamiang, Aceh Utara, Pidie Jaya, dan Aceh Timur. Sedangkan, kawasan kedua berada di wilayah dataran tinggi, yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.
Lokasi geografis daerah terdampak ini berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang merupakan salah satu kawasan konservasi di Indonesia, menegaskan bahwa sumber utama bencana banjir Sumatra pada November 2025 lalu bermula dari parahnya tingkat kerusakan ekosistem alam di wilayah hulu tersebut.
Dalam publikasi ini pula, tercatat bahwa masih ada sisa pengungsi banjir Aceh yang harus bertahan hidup di tenda darurat maupun gedung pengungsian. Hingga 27 Juli 2026, jumlah korban yang belum mendapatkan tempat tinggal layak ini mencapai total 129 kartu keluarga (KK).
Mirisnya, Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto sebelumnya sempat mengklaim bahwa tidak ada lagi pengungsi banjir Sumatra di Aceh yang berada di tenda. Ia menegaskan bahwa seluruh korban telah direlokasi dan tinggal di hunian sementara (huntara).
“Di tenda sudah gak ada lagi, 100%. Semua sudah keluar dari tenda masuk ke hunian-hunian sementara ataupun hunian tetap sudah mulai,” ungkapnya dalam keterangan pers usai melaksanakan salat Idulfitri di Aceh Tamiang, Sabtu (21/3/2026).
Perbedaan antara pernyataan Kepala Negara dengan realita data kondisi Aceh pasca banjir di lapangan ini mengindikasikan bahwa masih terdapat ketimpangan informasi serta birokrasi tata kelola pemulihan banjir Sumatra yang tampaknya tidak tersampaikan dengan akurat hingga ke pemerintah pusat.
Baca Juga: Sentimen dan Emosi Publik terhadap Penanganan Banjir Sumatra 2025
Sumber:
https://tanggapi.acehprov.go.id/publikasi/percepatan-rehabilitasi-dan-rekonstruksi-pasca-bencana-aceh
Ditulis oleh Shahibah A
Jurnalis data GoodStats Data
Bagikan statistik ini: