Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bersama Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dan Wahana Visi Indonesia (WVI) dalam surveinya bertajuk Kajian Suara Anak: Mengedepankan Perspektif Anak dalam Program Makan Bergizi Gratis mengungkapkan bahwa makan bersama teman menjadi alasan utama responden peserta didik menyukai program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dengan proporsi mencapai 78%, angka ini melampaui alasan lainnya, bahkan lebih besar daripada faktor ekonomi berupa tidak mengeluarkan biaya untuk makan dengan persentase 63,3%.
Selanjutnya, menu makanan menjadi alasan ketiga yang disukai anak Indonesia dari program MBG, dengan dipilih oleh 48% responden. Namun, ketika melihat aspek serupa terkait rasa dan kualitas makanan, persentasenya menurun menjadi 29%.
Komponen berikutnya yaitu jadwal makan juga menjadi hal yang disukai anak didik dari MBG, dengan banyak 21% responden. Hanya berselisih tipis, cara penyajian MBG turut disukai oleh 20,4% publik. Sementara itu, terdapat 7% responden yang menyebut alasan lainnya yang tidak dicantumkan dalam daftar.
Survei ini melibatkan 1.624 responden berupa anak berusia 12-17 tahun yang telah menerima program MBG lebih dari sekali yang berasal dari 12 provinsi penerima manfaat MBG di Indonesia, meliputi Aceh, Bengkulu, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua.
Survei dilakukan melalui pendekatan penelitian yang dipimpin oleh anak atau Child-Led Research (CLR) dan Listening to Children (LtC) dengan metode convenience sampling. Pengumpulan data kuantitatif dilaksanakan secara online pada 11 Juli-1 Agustus 2025 untuk kemudian diperkuat secara kualitatif melalui Focus Group Discussion (FGD) pada 2 dan 9 Agustus 2025.
Jika ditinjau dari persebaran daerahnya, alasan makan bersama teman menjadi alasan mayoritas hampir di seluruh provinsi, kecuali peserta didik dari NTT. Berbeda dengan wilayah lainnya, provinsi ini justru dominan menyukai faktor tidak mengeluarkan uang. Menurut mereka, MBG dapat menghemat uang jajan sehingga dapat mengurangi pengeluaran untuk makan siang dan menabung.
Terlebih, hidangan MBG menjadi salah satu motivasi kuat untuk datang ke sekolah bagi para peserta didik di NTT, seperti pada Sekolah Dasar (SD) Katolik Wee Pangali, Sumba Barat Daya.
Disampaikan oleh salah satu guru, Theresia Tamo, paket MBG menjadi hidangan mewah yang tidak mau dilewatkan oleh anak-anak.
"Setelah sembilan bulan program MBG berjalan, kehadiran siswa meningkat signifikan. Mereka bahkan rela tetap masuk sekolah, meski sedang kurang sehat demi bisa menikmati santapan bergizi tersebut," ucapnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (18/11/2025), dilansir dari Antara.
Baca Juga: Ramai Kasus Keracunan MBG, Apa Harapan Publik untuk Pemerintah?
Sumber:
https://cisdi.org/riset-dan-publikasi/publikasi/kajian-suara-anak-mengedepankan-perspektif-anak-dalam-program-mbg