Dalam survei yang dirilis oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bersama Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dan Wahana Visi Indonesia (WVI), rasa dan kualitas makanan menjadi faktor utama responden peserta didik tidak menyukai Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan proporsi mencapai 52%.
Alasan kedua yang paling banyak disebut adalah menu makanan dengan persentase 33,5%, diikuti oleh aspek jadwal makan yang dipilih 22,1% responden.
Selanjutnya, aspek lain berupa cara penyajian turut dinilai tidak memuaskan oleh 13,5% responden. Sementara itu, sebanyak 6,4% merasa bahwa program MBG sudah berjalan cukup baik dengan menyatakan tidak ada hal yang mereka tidak sukai. Adapun 17,8% lainnya menyebut alasan lain yang tidak dijelaskan secara spesifik dalam daftar ini.
Survei ini melibatkan 1.624 responden berupa anak berusia 12-17 tahun yang telah menerima program MBG lebih dari sekali yang berasal dari 12 provinsi penerima manfaat MBG di Indonesia, meliputi Aceh, Bengkulu, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua.
Jika ditinjau dari persebaran wilayahnya, faktor rasa dan kualitas makanan dominan dipilih sebagai hal yang tidak disukai oleh responden murid di provinsi DI Yogyakarta, Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, NTB, dan NTT. Di wilayah Aceh, Jawa Tengah, dan Sulawesi Tengah, aspek jadwal makan justru menjadi jawaban yang paling banyak dipilih.
Berbeda dengan provinsi lainnya, Jawa Timur menjadi satu-satunya provinsi dengan elemen menu makanan sebagai alasan yang paling mencolok dibandingkan faktor lainnya. Adapun terdapat dua provinsi dengan sebagian besar anak murid yang tidak menyukai seluruh segi program MBG dalam daftar, yaitu Bengkulu dan Papua.
Dalam pelaksanaan MBG, CISDI menemukan sejumlah persoalan dalam implementasi program. Utamanya, tercatat 12.820 kasus keracunan makanan sejak 6 Januari-31 Oktober 2025, penemuan menu pangan ultra-proses tinggi gula, garam, lemak dalam MBG, hingga tata kelola yang belum melibatkan semua pihak, terutama anak selaku pihak terdampak dari program.
Survei bertajuk Kajian Suara Anak: Mengedepankan Perspektif Anak dalam Program Makan Bergizi Gratis ini dilakukan melalui pendekatan penelitian yang dipimpin oleh anak atau Child-Led Research (CLR) dan Listening to Children (LtC) dengan metode convenience sampling. Pengumpulan data kuantitatif dilaksanakan secara online pada 11 Juli-1 Agustus 2025 untuk kemudian diperkuat secara kualitatif melalui Focus Group Discussion (FGD) pada 2 dan 9 Agustus 2025.
Baca Juga: Analisis Sentimen Media Online terhadap MBG: 61% Negatif
Sumber:
https://cisdi.org/riset-dan-publikasi/publikasi/kajian-suara-anak-mengedepankan-perspektif-anak-dalam-program-mbg