Belanja BNPB Naik dalam RAPBN 2027, Capai Rp1.003 Miliar

Rancangan anggaran BNPB pada tahun 2027 akan naik dua kali lipat, menjadi Rp1.003,1 miliar dari APBN 2026 yang besarnya Rp491 miliar.

Perkembangan Anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana

(2026-2027)

Berdasarkan Buku II Nota Keuangan beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, pemerintah mencanangkan kenaikan pagu pada alokasi pendanaan untuk lembaga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Pertumbuhan rancangan anggaran untuk lembaga kebencanaan negara ini tercatat melonjak hingga dua kali lipat, yaitu menyentuh 104,3%. Pada periode sebelumnya, BNPB hanya diberikan pagu Rp491 miliar dalam APBN 2026. Kini, melalui postur RAPBN 2027, alokasi belanja BNPB tumbuh menjadi Rp1.003,1 miliar.

Jika dirinci, program ketahanan bencana menempati porsi penyumbang alokasi terbesar. Tidak hanya mendominasi secara proporsi, pertumbuhan dana untuk program ini juga lebih besar dibandingkan dengan program dukungan manajemen.

Baca Juga: Anggaran MBG Lebih Besar dari Kebencanaan di RAPBN 2026, Pantaskah?

Program utama tersebut dijatuhi kucuran dana hingga Rp713,1 miliar dalam RAPBN 2027, atau mengambil porsi dominan sebesar 71% dari total anggaran lembaga.

Pada alokasi APBN 2026, program ketahanan bencana hanya mendapatkan pagu sebesar Rp250 miliar. Angka ini menunjukkan adanya pertumbuhan hingga mencapai 2,5 kali lipat, atau setara dengan 185,2%.

Sementara itu, program dukungan manajemen mendapat rancangan pagu sebesar Rp290 miliar pada tahun 2027, atau mengambil porsi 29%.

Dari sisi pertumbuhannya, program manajerial ini mengalami kenaikan sebanyak 20,3% dari APBN 2026 yang sebelumnya dipatok Rp241 miliar.

Kenaikan dana program ketahanan bencana yang melampaui program dukungan manajemen ini menunjukkan bahwa pemerintah mulai menaruh fokus pada upaya mitigasi dan penanggulangan bencana di Indonesia.

Kendati tumbuh, nominal pagu lembaga ini masih tergolong rendah jika disandingkan dengan postur anggaran kementerian atau lembaga lainnya.

Sebagai contoh, Badan Gizi Nasional (BGN) yang menjadi kementerian atau lembaga dengan rancangan anggaran terbesar dalam RAPBN 2027 mengantongi dana Rp240,2 triliun, disusul oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan) di peringkat selanjutnya dengan anggaran senilai Rp189,01 triliun.

Padahal, Indonesia berada di peringkat ketiga sebagai negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia setelah Filipina dan India, menurut World Risk Index pada tahun 2025.

Di sisi lain, sektor kebencanaan sendiri masuk sebagai salah satu poin dalam Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) yang dirumuskan oleh pemerintah dalam RAPBN 2027. Secara lengkap, delapan klaster PKPN yang menjadi kerangka strategis negara terdiri dari:

  1. Klaster kedaulatan pangan.
  2. Klaster kemandirian energi dan air.
  3. Klaster pendidikan.
  4. Klaster kesehatan.
  5. Klaster hilirisasi dan industrialisasi.
  6. Klaster infrastruktur, perumahan, dan ketahanan bencana.
  7. Klaster ekonomi kerakyatan dan desa.
  8. Klaster penurunan kemiskinan.

Maka, masuknya sektor ketahanan bencana ke dalam klaster prioritas pemerintah yang tidak dibarengi dengan lonjakan anggaran BNPB secara merata layaknya lembaga prioritas lainnya menandakan masih adanya tanda tanya terkait seberapa kuat komitmen riil pemerintah dalam mewujudkan penguatan klaster kebencanaan negara.

Baca Juga: Menakar Risiko Bencana di Indonesia, Sudah Siapkah Mitigasinya?

Sumber:

https://drive.google.com/file/d/1mUbNLalcb6aOhgPhOHW-QSiczOs8yb-Z/view?usp=sharing

Key Insights

  • Lonjakan anggaran BNPB hingga 104,3% menunjukkan peningkatan kesadaran pemerintah terhadap urgensi penanggulangan bencana.
  • Fokus utama anggaran BNPB pada program ketahanan bencana (71%) mengindikasikan prioritas pada mitigasi dan kesiapsiagaan dibandingkan aspek manajerial.
  • Meskipun ada kenaikan signifikan, anggaran BNPB masih sangat kecil dibandingkan K/L lain seperti BGN atau Kemenhan, padahal Indonesia berisiko bencana tinggi.
  • Pemasukan ketahanan bencana ke dalam Program Kerja Prioritas Nasional tanpa alokasi anggaran yang sebanding dengan prioritas lain menimbulkan pertanyaan tentang komitmen riil pemerintah.
Shahibah A
Ditulis oleh Shahibah A

Jurnalis data GoodStats Data

Lupa Sandi?

atau masuk dengan akun media sosial

Esc