Faktor Kolonialisme, 32% Lansia di NTB Tidak Tamat SD
Sebanyak 32,44% lansia di Nusa Tenggara Barat tidak tamat SD dan 31,54% lainnya tidak pernah sekolah.
Distribusi Lansia Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi di NTB
(Tahun 2025)
Unduh
Dalam publikasi Profil Lansia Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB tahun 2025, jumlah lansia di NTB diproyeksikan mencapai 55,37 jiwa dengan peningkatan umur harapan hidup menjadi 72,60 tahun.
Berdasarkan tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan, lansia di NTB masih didominasi oleh kelompok yang memiliki latar pendidikan rendah. Sebanyak 32,44% tidak tamat Sekolah Dasar (SD) bahkan 31,54% tidak pernah sekolah. Sementara itu, lulusan SD sederajat mencapai 18,68%.
Selanjutnya, lansia yang tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 5,14%, lebih rendah daripada lansia dengan lulusan SMA/SMK yang mencapai 6,79% dan lulusan perguruan tinggi sebanyak 5,41%.
Sejalan dengan itu, Angka Melek Huruf (AMH) lansia di NTB pada tahun 2025 hanya sebesar 63,27%. Tingkat melek huruf lansia laki-laki mencapai 76,96%, sedangkan lansia perempuan sekitar 51,67%.
Dari jenis kelamin, lansia perempuan di NTB tercatat memiliki pendidikan yang lebih rendah. Sebanyak 39,78% lansia perempuan tidak pernah sekolah, lebih tinggi daripada lansia laki-laki sampai pada tingkat lulusan SD. Di sisi lain, lulusan SMP, SMA/SMK, dan perguruan tinggi lebih banyak ditemukan pada laki-laki.
Baca Juga: 40% Lansia Jawa Barat Tinggal Bersama Keluarga Inti, Hanya 5% Hidup Sendiri
Sebagaimana yang didefinisikan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, lansia adalah penduduk yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.
Kebanyakan lansia menghabiskan masa kecilnya pada zaman sebelum kemerdekaan atau kolonial, yang mana kesempatan dan fasilitas pendidikan sangat terbatas dan hanya diperuntukkan bagi golongan tertentu.
Perempuan sering kali dianggap tidak perlu sekolah dan tugasnya hanya mengurus kebutuhan domestik rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan berpendidikan laki-laki lebih besar daripada perempuan.
Faktor budaya secara turun menurun masih tetap berperan dalam menciptakan ketimpangan pendidikan antara perempuan dan laki-laki, tetapi faktor ekonomi menjadi yang paling berpengaruh.
Pada tahun 2025, sebanyak 44,81% kelompok kuintil 1 tidak pernah sekolah, berbanding terbalik dengan kelompok kuintil 5 yang hanya mencapai 8,71%. Persentase tersebut memperlihatkan bahwa rumah tangga dengan ekonomi rendah mempengaruhi kualitas pendidikan.
Baca Juga: 10 Daerah dengan Persentase Lansia Tertinggi di Jawa Barat 2025
Sumber:
https://ntb.bps.go.id/id/publication/2026/08/28/d5f78700608cb63fe771f77f/profil-lansia-provinsi-nusa-tenggara-barat-2025.html
Ditulis oleh Zalfa Ronaa
Jurnalis data GoodStats Data
Bagikan statistik ini:
Artikel Terkait
68% Gen Z dan Milenial Maknai Agama Sebagai Wujud Rasa Syukur
10 Provinsi dengan Perempuan Terbanyak di Kursi Parlemen 2025