Indonesia kembali menghadapi tantangan atas tingginya intensitas bencana alam sepanjang 2025. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat 3.233 kejadian bencana terjadi selama periode 1 Januari hingga 31 Desember 2025. Angka ini menunjukkan bahwa risiko kebencanaan masih menjadi tantangan serius di berbagai wilayah Tanah Air.
Dari keseluruhan kejadian tersebut, banjir menjadi bencana paling dominan. BNPB mencatat sebanyak 1.652 kejadian banjir, setara dengan 51,1% dari total bencana yang terjadi sepanjang tahun. Artinya, lebih dari separuh bencana di Indonesia pada 2025 dipicu oleh luapan air, curah hujan ekstrem, serta persoalan tata kelola lingkungan dan wilayah.
Baca Juga: Jumlah Bencana Banjir Tembus 100 Kejadian Awal 2026
Tingginya frekuensi bencana turut berdampak langsung pada masyarakat. Sepanjang 2025, total korban terdampak bencana mencapai sekitar 10,1 juta orang. Mayoritas korban merupakan warga yang menderita dan harus mengungsi, dengan jumlah spesifik mencapai 10.092.416 orang. Data ini menegaskan bahwa dampak bencana tidak hanya diukur dari korban jiwa, tetapi juga dari besarnya populasi yang kehilangan tempat tinggal, akses layanan dasar, dan sumber penghidupan.
Selain itu, BNPB juga mencatat adanya 5.713 orang luka-luka, 1.623 orang meninggal dunia, serta 220 orang dilaporkan hilang akibat berbagai kejadian bencana sepanjang tahun lalu. Meski secara proporsi jumlah korban meninggal relatif lebih kecil dibanding korban terdampak, angka ini tetap menunjukkan besarnya risiko keselamatan yang dihadapi masyarakat di wilayah rawan bencana.
Dampak bencana juga tercermin dari kerusakan infrastruktur. BNPB melaporkan sebanyak 220.560 unit bangunan mengalami kerusakan selama 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 98,2% merupakan rumah warga, sementara sisanya mencakup fasilitas umum, perkantoran, serta infrastruktur seperti jembatan. Tingginya kerusakan rumah memperlihatkan kerentanan permukiman masyarakat terhadap ancaman bencana alam.
Meski demikian, BNPB menegaskan pada laporannya bahwa seluruh data tersebut masih bersifat sementara. Proses verifikasi dan validasi masih terus dilakukan untuk memastikan akurasi laporan dari daerah ke pusat.
Meski frekuensi bencana sepanjang 2025 tergolong tinggi, data BNPB juga mencerminkan semakin kuatnya sistem pencatatan dan respons kebencanaan di Indonesia. Jutaan warga terdampak dapat terdata dengan relatif cepat, sementara proses verifikasi yang terus berjalan menunjukkan upaya peningkatan akurasi dan transparansi informasi.
Ke depan, ketersediaan data ini menjadi fondasi penting untuk memperkuat mitigasi, perencanaan wilayah, serta kebijakan pengurangan risiko bencana yang lebih tepat sasaran.
Baca Juga: Banjir Dominasi Bencana Alam di Indonesia 2025
Sumber:
https://gis.bnpb.go.id/arcgis/apps/sites/#/public/pages/bencana-besar-tahun-2025