Fenomena kekerasan terhadap anak dan remaja menunjukkan tren yang semakin mengkhawatirkan pada 2025. Laporan yang masuk ke SIMFONI-PPA memperlihatkan bahwa korban kekerasan tidak hanya muncul dari lingkungan keluarga atau masyarakat, tetapi juga kuat berkaitan dengan latar belakang pendidikan. Temuan terbaru menyebutkan bahwa pelajar tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) mendominasi jumlah korban kekerasan di Indonesia pada tahun ini.
Menghimpun data real time SIMFONI-PPA yang dihimpun sejak 1 Januari hingga 21 November 2025, terdapat 8.805 korban berasal dari jenjang SLTA. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
Di urutan kedua terdapat jenjang SLTP dengan 6.838 korban, disusul jenjang SD dengan 6.371 korban. Sementara itu, korban kekerasan dari lingkungan perguruan tinggi mencapai 2.680 orang. Data SIMFONI-PPA juga mencatat 2.564 korban dengan kategori NA (data tingkat pendidikan belum tersedia atau tidak tercatat), 2.112 korban dari kategori tidak/belum pernah sekolah, dan 690 dari jenjang TK/PAUD.
Tingginya korban di tingkat SLTA tidak dapat dipandang sebelah mata. Remaja pada rentang usia ini berada dalam fase pencarian jati diri, rentan terhadap tekanan sosial, pergaulan bebas, kekerasan berbasis relasi, kekerasan seksual, hingga bullying. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman, dalam banyak kasus justru menjadi lokasi terjadinya kekerasan, baik antar teman sebaya maupun dari orang dewasa di lingkungan pendidikan.
SIMFONI-PPA mencatat bahwa data ini mencakup laporan yang telah terverifikasi serta laporan yang masih menunggu verifikasi (laporan yang masuk pada bulan berjalan). Artinya, angka ini masih bisa meningkat seiring proses pemutakhiran data.
Tingginya angka kekerasan terhadap pelajar SLTA mengindikasikan pentingnya penguatan sistem perlindungan di sekolah dan keluarga. Pengawasan pembelajaran, pendidikan karakter, layanan konseling, serta peningkatan literasi digital dan relasi sosial yang sehat perlu dioptimalkan. Selain itu, keterlibatan aktif guru, orang tua, dan teman sebaya dalam mendeteksi dini tanda-tanda kekerasan dapat membantu menekan kasus.
Kekerasan bukan hanya soal jumlah korban, tetapi juga tentang luka fisik dan psikologis yang berdampak jangka panjang pada masa depan generasi muda. Dengan data real time yang tersedia, langkah nyata pencegahan dan penanganan harus segera diprioritaskan agar sekolah kembali menjadi ruang aman bagi semua anak.
Baca Juga: Kasus Kekerasan di Dunia Pendidikan Indonesia Terus Naik
Sumber:
https://kekerasan.kemenpppa.go.id/ringkasan