Perang K-Netz Vs SEAblings di X Tuai Respons Positif Hingga 51%

Perseteruan warganet Korea dengan warganet Asia Tenggara tuai respons positif dari publik hingga 51,7%, disusul 39,2% sentimen netral dan 9,6% negatif.

Sentimen Publik terhadap Perseteruan K-Netz VS SEABLINGS di Media Sosial X/Twitter

(Tahun 2026)
Ukuran Fon:

Perseteruan antara K-Netz dan SEAblings di media sosial memantik perhatian publik. Perseteruan ini bermula dari insiden konser band Korea Day6 di Malaysia, ketika sejumlah fansite asal Korea membawa kamera profesional yang sebenarnya dilarang karena berpotensi menghalangi penonton lain. Teguran dari penonton lokal memicu perdebatan yang kemudian meluas ke media sosial X.

Respons sebagian warganet Korea yang melontarkan ujaran kebencian dan rasisme terhadap masyarakat Asia Tenggara justru memicu solidaritas regional. Warganet dari berbagai negara Asia Tenggara kemudian bersatu saling membela, mengubah konflik digital tersebut menjadi diskursus yang lebih luas tentang harga diri kawasan, stereotip, dan etika interaksi lintas budaya di ruang daring.

Baca Juga: 5 Aktor Korea Favorit Publik Indonesia, Ada Kesukaanmu?

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan oleh Drone Emprit, respons publik di X didominasi oleh sentimen positif sebesar 51,7%. Sentimen netral berada di angka 38,5%, sementara sentimen negatif tercatat hanya 9,8%. Analisis ini diperoleh dari 18.934 sample mentions di media sosial.

Komposisi ini menunjukkan bahwa perbincangan lintas negara di kawasan Asia Tenggara tidak semata dipenuhi konflik warganet, tetapi juga menguatkan solidaritas regional yang terasa nyata di ruang digital.

Salah satu sorotan utama dalam sentimen positif publik di X muncul dari narasi persaudaraan negara serumpun yang diperlihatkan melalui gerakan SEAblings. Warganet lintas negara Asia Tenggara tampak saling memberikan dukungan dan membela satu sama lain sebagai respons atas ujaran kebencian dan rasis dari K-Netz yang menyasar kawasan tersebut.

Solidaritas ini dipandang sebagai bentuk empati kolektif sekaligus upaya membongkar stereotip terhadap masyarakat Asia Tenggara yang kerap dianggap terpecah. Dalam sejumlah percakapan, Indonesia bahkan disebut sebagai “ketua geng” di ASEAN, menegaskan peran simbolik negara ini dalam membangun rasa kebersamaan regional.

Dukungan lintas negara tersebut juga memperlihatkan bagaimana konflik digital dapat memicu kesadaran kolektif tentang identitas kawasan. Fenomena ini sejalan dengan pandangan pakar komunikasi dari Universitas Brawijaya, Anang Sunjoko.

“Ketika kita berbicara mengenai persaudaraan, hal tersebut mulai muncul. Terlebih saat internet telah menjadikan dunia seolah tanpa batas, rasa persaudaraan ini dapat bangkit begitu saja karena adanya musuh bersama,” ujarnya mengutip Metro TV (14/02/2026).

Meski demikian, sentimen negatif tetap muncul meskipun dalam proporsi yang lebih kecil. Sebagian warganet mengaku bingung dengan konflik yang berkembang hingga menyerang individu yang tidak terlibat langsung. Kekhawatiran juga muncul terhadap meme dan narasi yang berpotensi mereproduksi rasisme, serta kecemasan bahwa ujaran kebencian dapat memicu balasan serupa dan memperpanjang siklus konflik digital di kawasan.

Secara keseluruhan, dominasi sentimen positif menunjukkan bahwa perdebatan di media sosial tidak hanya memunculkan ketegangan, tetapi juga memperlihatkan kuatnya solidaritas regional Asia Tenggara dalam menghadapi isu bersama di ruang digital.

Baca Juga: Simak Indeks Kebebasan Pers di Asia Tenggara, Indonesia Peringkat 7

Sumber:

https://x.com/DroneEmpritOffc/status/2024822937963077882?s=20

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook