Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Tuai 72% Respons Negatif di Media Sosial

Sentimen publik di media sosial terhadap pelemahan nilai tukar rupiah didominasi sentimen negatif sebesar 72,2%.

Sentimen Publik terhadap Pelemahan Nilai Tukar Rupiah di Media Sosial

(Mei 2026)
Ukuran Fon:

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian publik pada pertengahan Mei 2026. Rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.600 hingga Rp17.800 per dolar AS memicu kekhawatiran publik mengenai dampaknya terhadap kondisi ekonomi nasional. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pelemahan rupiah dipersepsikan sebagian masyarakat sebagai faktor yang dapat mendorong kenaikan harga barang, meningkatkan biaya produksi, serta menekan daya beli. Situasi tersebut menjadi perbincangan luas di berbagai platform digital.

Baca Juga: Nilai Rupiah Hari Ini Terus Melemah Menembus Rp17.735 per Dolar AS, Tekanan Global Masih Tinggi

Berdasarkan pemantauan Drone Emprit, isu pelemahan nilai tukar rupiah diberitakan dalam 4.275 artikel media online dengan total 10.690 mentions. Sementara itu, di media sosial tercatat 24.137 sample mentions yang berasal dari berbagai platform, seperti Twitter/X, Facebook, Instagram, dan TikTok. Pengumpulan data dilakukan pada 14-20 Mei 2026.

Hasil analisis sentimen menunjukkan bahwa 72,2% percakapan di media sosial bernada negatif. Dominasi sentimen negatif terutama dipicu oleh kekhawatiran masyarakat terhadap dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh pelemahan rupiah. Banyak warganet menyoroti potensi inflasi, kenaikan biaya hidup, serta meningkatnya beban utang yang dinilai dapat mengingatkan pada krisis ekonomi 1998.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan kalangan dunia usaha. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, menilai pelemahan rupiah yang telah menyentuh level di atas Rp17.500 per dolar AS merupakan kondisi yang perlu direspons secara serius. Menurutnya tekanan rupiah saat ini bukan sekadar gejolak sementara, melainkan bagian dari dinamika ekonomi global yang berpotensi meningkatkan biaya usaha dan menambah ketidakpastian bagi pelaku bisnis di dalam negeri.

"Pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini bahkan telah menyentuh level psikologis baru di atas Rp17.500 per dolar AS, ini tentu menjadi perhatian bagi dunia usaha, dan perlu direspons secara serius dan terkoordinasi," ujarnya mengutip CNBC Indonesia (18/5/2026).

Di samping itu, kritik terhadap pernyataan Presiden bahwa “orang desa tidak pakai dolar” juga menjadi salah satu topik yang banyak diperbincangkan. Sejumlah warganet menilai pernyataan tersebut mengabaikan dampak tidak langsung pelemahan nilai tukar terhadap kehidupan masyarakat. Meskipun transaksi sehari-hari dilakukan menggunakan rupiah, banyak barang kebutuhan pokok dan produk konsumsi bergantung pada bahan baku impor atau dipengaruhi harga komoditas global yang menggunakan dolar AS sebagai acuan.

Di sisi lain, 19,4% percakapan bernada positif. Kelompok ini optimistis bahwa pelemahan rupiah hanya bersifat sementara dan akan kembali menguat seiring membaiknya kondisi ekonomi nasional. Sebagian warganet juga menilai kurs rupiah yang lebih lemah dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor dan pariwisata karena meningkatkan daya saing produk serta destinasi Indonesia di pasar internasional. Adapun 8,5% percakapan lainnya bersifat netral.

Baca Juga: Naik Turun Kinerja IHSG Januari-Mei 2026

Sumber:

https://x.com/droneempritoffc/status/2057711301917565296?s=46

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook