Isu krisis bahan bakar minyak (BBM) tidak hanya memicu perbincangan soal kebijakan dan pasokan energi, tetapi juga memunculkan beragam emosi di tengah masyarakat. Mulai dari rasa lega, khawatir, hingga kemarahan, respons publik menunjukkan bahwa isu ini tidak sekadar persoalan teknis, melainkan juga menyentuh kondisi psikologis dan rasa aman masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Isu Krisis BBM Ramai Dibahas, Begini Respons Publik di X
Berdasarkan data laporan yang dilakukan oleh Drone Emprit dalam periode 13–25 Maret 2026, isu krisis BBM diberitakan dalam 14.423 artikel dan menghasilkan 29.977 mentions di media online. Selain itu, percakapan di media sosial mencapai 16.813 sample mentions.
Emosi publik terhadap isu krisis BBM cukup beragam. Rasa senang tercatat paling tinggi dengan 1.016 unggahan, diikuti antisipasi sebanyak 681 unggahan, serta emosi negatif seperti muak (722) dan ketakutan (610). Selain itu, terdapat juga rasa marah (555), percaya (415), terkejut (353), dan sedih (80). Data ini menunjukkan bahwa respons masyarakat tidak didominasi oleh satu emosi saja, melainkan campuran antara optimisme dan kekhawatiran.
Rasa senang umumnya muncul dari kabar yang dianggap menenangkan. Beberapa publik merasa lega karena harga BBM di Indonesia masih relatif stabil di tengah situasi global. Selain itu, kebijakan seperti work from home (WFH) juga disambut baik karena dinilai dapat membantu menghemat biaya transportasi. Namun, di sisi lain, ada juga nada sindiran terhadap prioritas kebijakan tertentu seperti program MBG yang dinilai kurang tepat di tengah kondisi krisis energi.
Sementara itu, emosi antisipasi mencerminkan sikap masyarakat yang mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Kekhawatiran terhadap inflasi dan kenaikan biaya transportasi menjadi salah satu topik yang banyak dibahas. Selain itu, menjelang periode mudik Lebaran, kekhawatiran akan kelangkaan BBM juga meningkat.
Beberapa masyarakat bahkan mulai melakukan langkah antisipatif, seperti mengisi bahan bakar penuh, menyimpan cadangan energi, hingga mempertimbangkan penggunaan alternatif seperti panel surya. Tidak sedikit pula yang menunggu kejelasan kebijakan, termasuk kemungkinan penerapan WFH secara lebih luas.
Di sisi lain, emosi muak dan marah banyak dipicu oleh ketidakpuasan terhadap respons pemerintah. Sebagian publik merasa kebijakan yang diambil belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat, bahkan dinilai lambat dan kurang konkret.
Kritik juga muncul terhadap rencana kebijakan sekolah daring yang dianggap dapat berdampak pada kualitas pendidikan. Selain itu, keberlanjutan program tertentu seperti MBG juga memicu perdebatan di tengah situasi yang dianggap membutuhkan fokus pada penanganan krisis energi.
Baca Juga: 34% Sentimen Positif, Begini Respons Publik di Instagram soal Krisis BBM
Sumber:
https://x.com/DroneEmpritOffc/status/2037564609725665364