Menurut survei Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah penduduk Indonesia terkoneksi internet mencapai 235,26 juta jiwa pada 2026 dari total populasi 287,89 juta jiwa. Hal ini berarti, tingkat penetrasi internet Indonesia naik menjadi 81,72% pada 2026.
Tingginya tingkat penetrasi internet ini turut membawa pertanyaan terkait jaminan keamanan akun yang digunakan. Dengan semakin maraknya kejahatan digital, mengganti password jadi salah satu cara untuk menjaga akun tetap aman. Sayangnya, kebiasaan mengganti password secara berkala masih belum menjadi budaya digital mayoritas masyarakat Indonesia. Padahal, pergantian password secara rutin dinilai penting untuk menjaga keamanan akun digital dari risiko peretasan dan pencurian data.
Baca Juga: Simak Alasan dan Tantangan Penggunaan Internet di Indonesia 2025
Sebanyak 52,9% responden mengaku tidak tahu atau bahkan tidak pernah mengganti password akun mereka. Angka ini menjadi yang tertinggi dibanding kategori lainnya.
Menariknya, sebanyak 30,1% responden mengaku baru mengganti password ketika merasa akun mereka terancam atau mengalami indikasi masalah keamanan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa sebagian besar pengguna internet masih bersikap reaktif dalam menjaga keamanan akun digital. Pergantian password umumnya dilakukan setelah muncul kekhawatiran seperti upaya peretasan, kebocoran data, atau aktivitas mencurigakan pada akun.
Sementara itu, jumlah masyarakat yang rutin mengganti password secara berkala masih tergolong kecil. Hanya 4,7% responden yang mengganti password satu kali dalam sebulan.
Kemudian, sebanyak 4,1% responden mengganti password setahun sekali, sedangkan 3,5% melakukannya setiap enam bulan.
Adapun masyarakat yang mengganti password setiap tiga bulan tercatat sebesar 2,7%, sementara yang mengganti password setiap dua bulan hanya 2,1%.
Rendahnya kebiasaan mengganti password secara rutin dapat meningkatkan risiko kebocoran data dan penyalahgunaan akun, terutama jika pengguna memakai password yang sama di banyak platform.
Untuk itu, peningkatan literasi keamanan digital dinilai penting agar masyarakat lebih memahami pentingnya penggunaan password yang kuat, autentikasi ganda, serta kebiasaan memperbarui kata sandi secara berkala untuk menjaga keamanan data pribadi.
Adapun Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Penggunaan Internet 2026 ini dilaksanakan pada 1 Februari-15 Maret 2026 dengan melibatkan 8.700 responden berusia minimal 13 tahun yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi di Indonesia. Metode yang digunakan adalah wawancara tatap muka oleh enumerator terlatih.
Baca Juga: Orang Indonesia Akses Media Sosial >8 Jam per Minggu
Sumber:
https://survei.apjii.or.id/survei