Peningkatan kasus campak di Indonesia pada awal 2026 memicu perhatian luas, baik dari pemerintah maupun publik. Situasi ini bermula ketika pada 23 Februari 2026, Kementerian Kesehatan menerima notifikasi dari otoritas kesehatan Australia terkait dua kasus campak yang memiliki riwayat perjalanan dari Indonesia. Kasus tersebut terdiagnosis sejak pertengahan Februari dan menjadi sinyal awal meningkatnya kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit ini.
Seiring waktu, kekhawatiran terhadap campak semakin menguat dengan adanya laporan peningkatan kasus di berbagai wilayah serta munculnya kejadian luar biasa (KLB) di sejumlah daerah. Kondisi ini menegaskan bahwa campak masih menjadi tantangan serius dalam kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.
Baca Juga: Kasus Campak di Indonesia Naik di Awal 2026, 8.224 Suspek Dilaporkan hingga Minggu ke-7
Merespons kondisi tersebut, pemerintah menerbitkan surat edaran kewaspadaan campak dan memperkuat program imunisasi sebagai langkah utama pencegahan. Berdasarkan data Drone Emprit, isu imunisasi dan penanganan campak diberitakan dalam 3.127 artikel media online dengan total 13.463 mentions. Sementara itu, di media sosial tercatat 10.453 sample mentions yang berasal dari berbagai platform, yakni Twitter/X, Facebook, Instagram, TikTok, serta media online. Pengumpulan data dilakukan pada 23 Februari-31 Maret 2026.
Di Instagram, sentimen warganet didominasi oleh respons positif dengan persentase mencapai 71,3%. Respons ini tercermin dari beragam konten yang bersifat edukatif dan promotif, seperti penyebaran infografis mengenai bahaya komplikasi campak, promosi layanan vaksin di puskesmas, hingga antusiasme masyarakat terhadap program vaksinasi di rumah sakit swasta. Selain itu, warganet juga aktif membagikan informasi mengenai cara deteksi mandiri gejala campak serta konten yang membandingkan mitos dan fakta terkait vaksin.
Meski demikian, sentimen negatif tetap muncul dengan porsi sebesar 9,7%. Kritik yang berkembang umumnya berkaitan dengan respons kebijakan, khususnya penilaian bahwa pemerintah belum cukup cepat menetapkan status KLB di daerah rawan. Selain itu, terdapat pula pandangan yang mengaitkan kematian tenaga kesehatan semata-mata sebagai takdir, yang berpotensi mengabaikan aspek perlindungan dan keselamatan kerja tenaga medis. Sementara itu, 19% respons warganet instagram bersifat netral.
Baca Juga: Balita yang Terima Imunisasi Campak Terus Naik dalam 5 Tahun Terakhir
Sumber:
https://x.com/droneempritoffc/status/2039712932217696533?s=46