10 Provinsi dengan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan Tertinggi Agustus 2026
Provinsi-provinsi di wilayah Indonesia bagian tengah mendominasi top 5 NTPi tertinggi Agustus 2026, Sulawesi Tenggara memimpin sebesar 129,35.
10 Provinsi dengan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan Tertinggi
(Agustus 2026)
Unduh
Budi daya perikanan merupakan rangkaian pemeliharaan sampai panen dalam ekosistem terkontrol yang membutuhkan manajemen sarana produksi secara optimal.
Keberhasilan usaha budi daya ikan dipengaruhi oleh harga jual, biaya pakan, benih, serta kebutuhan hidup yang secara langsung menentukan daya beli pembudidaya.
Kemampuan daya beli tersebut lantas diukur melalui nilai tukar pembudidaya ikan (NTPi) dengan membandingkan indeks harga yang diterima (It) terhadap indeks harga yang dibayar nelayan (Ib).
Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 September mendata NTPi Agustus 2026 menggunakan tahun dasar 2018 dengan angka 100 sebagai acuan dalam penghitungannya.
Nilai di bawah 100 menunjukkan bahwa biaya yang harus dibayarkan seperti konsumsi rumah tangga dan modal produksi lebih banyak dibandingkan pendapatan pembudidaya sehingga kesejahteraan nelayan rendah, sementara nilai di atas 100 menandakan sebaliknya.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Nilai Tukar Nelayan Tangkap Tertinggi Agustus 2026
Sulawesi mengukuhkan dua provinsinya di posisi teratas, dengan Sulawesi Tenggara yang nilainya mencapai 129,35. WIlayah ini mengandalkan kinerja subsektor perkebunan rakyat dan tanaman pangan yang harganya melonjak di pasar domestik maupun global seperti kakao, kelapa, dan cengkih.
Sulawesi Selatan meraih selisih tipis di angka 128,79. Kenaikan pendapatan pembudidayanya dipicu oleh harga jual berbagai komoditas perikanan di pasar, terutama rumput laut dan ikan bandeng payau. Harga inflasi perdesaan yang terkendali dan sistem budi daya mandiri turut menekan biaya produksi.
Jarak yang cukup tajam tampak pada raihan Aceh yang sebesar 112,26. Bentuk geografisnya terdiri dari wilayah pesisir yang landai dan kawasan dataran tinggi, sehingga optimal untuk pertambakan komoditas air payau serta kolam air tawar.
Di bawahnya ada Jawa Tengah senilai 111,84. Capaian ini didukung oleh efisiensi jalur logistik Trans-Jawa yang memangkas biaya distribusi ke kota-kota besar, serta terkendalinya biaya hidup petambak karena berada di wilayah lumbung pangan nasional.
Nusa Tenggara Timur mengekor di angka 110,93 yang ditopang oleh melejitnya harga ekspor komoditas “sultan” dari laut dalam seperti kerapu dan lobster. Pembudidaya juga banyak yang memanfaatkan pakan alami sehingga tidak bergantung pada pelet pabrikan.
Memasuki paruh kedua, Jawa Barat memperoleh nilai 109,04, diikuti Sulawesi Barat sebesar 108,38, dan DKI Jakarta 108,01.
Sementara Riau serta Kalimantan Utara masing-masing sejumlah 107,82 dan 106,16.
Secara keseluruhan, stabilitas harga jual serta pengendalian biaya produksi di berbagai daerah akan terus menjadi hal fundamental dalam menjaga daya beli masyarakat pesisir ke depannya.
Baca Juga: Tren Produksi Perikanan Nasional 2021-2026, Subsektor Budi Daya Jadi Tulang Punggung
Sumber:
https://www.bps.go.id/assets/statistics-table/2/MTc0MSMy/nilai-tukar-nelayan-dan-pembudidaya-ikan--agustus-2026.html
Ditulis oleh Rosita Fatimah Azahra
Jurnalis data GoodStats Data
Bagikan statistik ini: